Dibalik Surah Al Kafirun

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

1. Katakanlah (Muhammad): “Wahai orang-orang kafir!

لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

3. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah.

وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ

4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.

وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah.

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

6. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”
(QS. Al Kafirun: 1-6)Banyak diantara kita umat Islam yang sering mendengar ayat itu atau bahkan hafal surah tersebut. Namun, apa latar belakang Allah menurunkan Surah Al Kafirun?

Surah Al Kafirun termasuk golongan surah Makkiah.

Surah ini mengenai sebuah peristiwa ketika beberapa orang kafir berusaha mengadakan dialog dengan Nabi dalam rangka menjatuhkan beliau agar kaum muslim kembali ke kebiasaan lamanya menyembah berhala. Mereka mengusulkan untuk menyembah Allah selama satu tahun, mengikuti ajaran Nabi, dan tahun berikutnya mereka semua termasuk Nabi dan kaum muslim menyembah berhala-berhala tradisional mereka. Dengan demikian mereka akan berganti-ganti praktik ibadat sampai salah satu cara terbukti benar pada salah satu pihak. Maka, menurut jalan pikiran kaum kafir, jika ajaran Nabi benar, mereka akan memperoleh keuntungan dari mengikuti ajaran Nabi; tapi, jika praktik kaum kafir benar, maka mereka dan kaum muslim akan mendapat keuntungan dari menyembah berhala-berhala. Surah ini merupakan jawaban dari mereka yang percaya dan beriman kepada mereka yang tidak beriman.

Salah satu riwayat oleh Abdurrazaq yang bersumber dari Wahb dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Al Munzir yang bersumber dari Juraij bahwa kaum kafir Quraisy berkata kepada Rasulullah sholallahu ‘alayhi wassalam, “Sekiranya Engkau tidak berkeberatan mengikuti kami (menyembah berhala) selama setahun, kami pun akan mengikuti agamamu selama setahun pula.”
Dalam riwayat lain oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Mina dikemukakan bahwa Al Walid bin Al Mughirah, Al Ash bin Wail, Al Aswad bin Al Mutalib, dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah sholallahu ‘alayhi wassalam dan berkata, “Hai Muhammad! Mari kita bersama menyembah apa yang kami sembah, dan kami pun akan menyembah apa yang kamu sembah. Kita bersekutu dalam segala hal dan Engkaulah yang memimpin kami.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: