Ustadz Tan Gunawan Arief : Islam “Agama yang Benar dan Masuk Akal”

Ia tak bisa memastikan kapan dirinya masuk Islam. Seingatnya, dirinya pernah membaca dua kalimat  shahadat di Masjid Istiqlal dan di hadapan beberapa ulama terkenal. Itulah pengakuan Ustadz Tan Gunawan Arief yang sengaja tidak mau mengingat, kapan pertama kali ia ber-Islam. Berikut penuturan beliau kepada RONIE LA dari Majalah Hidayah.

Aku merupakan anak sulung dari pasangan Tan Hong Ho dan Cau Sioe Ling. Potret keluarga keturunan dengan jiwa berdagang yang begitu kental. Saat dilahirkan, mereka memberiku nama Tan Soei Hoek. Kedua orang tuaku beragama Budha, begitu juga denganku.

Sejak kelas satu sampai kelas lima SD, saya sudah tinggal dan diasuh oleh nenek, Tan Eng Nio, yang biasa dipanggil Chaima (Pendeta Budha Wanita). Secara pribadi, aku sangat mengagumi keyakinannya untuk tidak makan daging. Betapa tidak, ia begitu konsisten menjalaninya sejak masih berusia belia.

Tempat tinggal nenekku sebenarnya di daerah Pasar Bulan, Hayam Wuruk. Tapi, beliau juga mempunyai satu bangunan Vihara di daerah Roxy, Jakarta. Nah, di tempat itulah kami lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Selama di sana, aku juga latihan Kungfu di gedung milik Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Tiap pagi, nenek mengajariku untuk memasang dupa. Aku yang masih kecil tidak mengerti apa maksud dan kegunaannya. Aku hanya menurut dan menganggapnya sebagai kewajiban yang harus dilakukan. Tidak boleh tidak.

Setiap sore aku perhatikan, nenek selalu rajin melakukan Liam Keng (dzikir). Beliau mengetuk-ketukan alat seperti palu di dekat altar pemujaan. Mulutnya komat-kamit dan mengeluarkan suara yang tak bisa aku fahami. Rutinitas itu selalu berulang tiap hari. Dalam pandanganku, beliau mempunyai akhlak yang luar biasa.

Suatu ketika, ibuku yang biasa membuat boneka untuk berjualan, dipanggil oleh nenek. Beliau meminta ibuku membuatkan boneka seperti yang ada dalam mimpinya. Boneka itu lalu dinamakan Boneka Bali dan diletakkan di atas altar pemujaan bersama dengan patung dewa-dewa yang lain. Kemudian boneka itu setiap hari nenek sembah, begitu juga aku. Dan setiap Selasa pagi, nenekku rutin memberi Boneka Bali telur yang diletakkan persis di depannya. Na’udzu billah.

Nenek menugaskanku setiap pagi dan sore untuk membersihkan patung dewa-dewa serta Boneka Bali itu. Sampai suatu ketika, aku lupa membersihkannya karena terlalu sibuk mempersiapkan ulangan  umum. Waktu aku kembali dari sekolah, ternyata nenekku sudah kerasukan Boneka Bali. Beliau sangat marah dan memintaku agar tidak mengulangi lagi perbuatan yang sama. Sambil mencekal tangan kananku, nenek berkata dengan nada tinggi, “Kenapa cucu tidak membersihkan altar? Besok-besok, cucu jangan lupa yah!” Bagiku, kejadian itu menjadi pengalaman spiritual pertama yang membuatku yakin ada kekuatan lain di luar diri manusia.

AKTIF DALAM KEGIATAN KEAGAMAAN

Hatiku terasa berat berpisah dengan nenek saat mulai sekolah di Don Bosco (SMP). Meski begitu, aku masih sering mengunjunginya untuk melepas rasa kangen. Aku yakin, nenek pun punya perasaan yang sama. Karena setahuku, aku merupakan cucu yang paling beliau sayang. Bahkan, diusiaku yang mulai remaja, beliau masih suka menyisiri rambutku. Dari situlah aku belajar tentang budi pekerti dan kasih sayang antar manusia.

Di sekolah, aku termasuk anak yang punya ketertarikan lebih terhadap kegiatan keagamaan. Aku putuskan untuk menjadi anggota pemuda Ahlul Kitab (Katolik), meskipun aku masih menganut agama Budha. Bukan hanya itu, aku juga ikut kegiatan Teolog Pantekosta. Dan terakhir, aku juga ikut terlibat menjadi Pengabar Injil. Waktu itu, aku benar-benar merasa haus akan pengetahuan agama.

Pengaruh kegiatan di atas membuat diriku menjadi militant. Aku sangat bersemangat untuk mengajak orang-orang masuk ke dalam agama yang sedang aku pelajari. Begitu banyak orang yang akidahnya tergelincir karena ulahku. Sampai aku begitu malu kepada Allah kala mengingat-ingatnya, sampai sekarang.

TERTARIK DENGAN ISLAM

Aktifitas keagamaan yang aku geluti sekian lama, minus Islam, ternyata menyisakan banyak pertanyaan. Kenapa aku harus memaksa orang lain keluar dari agamanya? Apakah perbedaan agama yang ada harus disatukan? Apakah benar agama Islam itu menyesatkan?

Semangatku dalam mengikuti aktifitas keagamaan, baik Katolik maupun Budha, mulai mengendur. Aku lebih asyik mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan yang selama ini belum aku temukan. Saat itulah aku mulai tertarik mengamati aktifitas yang dilakukan umat Islam. Kenapa ketika masuk masjid umat Islam harus buka sepatu dan sandal? Lalu, kenapa berwudhu itu harus menggunakan air? Apa makna yang mendasarinya?

Lebih jauh aku mulai berpikir, kenapa aku dan nenekku harus menyembah patung? Bukankah itu benda mati yang diciptakan oleh manusia sendiri. Bagaimana mungkin bisa membantu manusia yang membuatnya?

Ada sebuah peristiwa yang membuatku tergugah. Seorang pembantu yang membantu mengurusi Vihara nenekku, tanpa sengaja menjatuhkan sebuah patung yang menjadi sembahanku. Saat pembantu itu membersihkan pecahan-pecahannya, dalam hati aku berkata, “Aduh, patung gua patah!” Aku lantas berpikir, apa yang selama ini kulakukan adalah tindakan yang sama sekali tidak logis.

Kebetulan, di dekat rumahku dulu ada sebuah mushola yang kini ‘naik pangkat’ menjadi Masjid Baiturrahim. Di samping sebelah kanannya, terdapat lapangan bulu tangkis yang digunakan untuk acara Maulid Nabi. Saat itu, seorang kiai yang sedang berceramah mengatakan sebuah kalimat sambil diterjemahkan, “Inna dina indallohil Islam (Sesungguhnya agama yang benar itu adalah agama Islam).”

Sejak saat itu, ketertarikanku terhadap Islam semakin menggebu-gebu. Selama seminggu penuh aku bergelut dengan buku-buku yang mengupas tentang ajarannya. Sampai akhirnya, hatiku benar-benar mantap. Islam adalah agama yang benar dan masuk akal.

Tidak berselang lama, aku melakukan pengucapan dua kalimat syahadat di Masjid Istiqlal. Belum merasa cukup, aku juga bersyahadat di hadapan Buya Hamka (Alm). Pada kesempatan yang lain, aku juga bersyahadat sambil disaksikan oleh Habib Ali. Intinya, aku bersyahadat di beberapa tempat. Sebab, dua kalimat syahadat memang akan selalu kita baca berulang-ulang dalam setiap shalat. Namaku lalu berganti menjadi Tan Muhammad Arief.

Perpindahanku agama tidak lantas membuat diriku anti toleransi. Aku mengerti betul bahwa pondasi sesungguhnya dari kehidupan yang dirahmati oleh Allah sub’hanahu wata’ala adalah kebersamaan dan saling menghargai satu sama lain. Maka, meskipun sudah berlainan agama, aku tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga dan rekan-rekan bisnisku. Semisal, apabila ada pihak keluargaku yang merayakan Imlek (Tahun Baru Cina), aku tetap berkunjung. Bagiku, toleransi itu harus tetap ada karena menyangkut toleransi kemanusiaan. Sebab, mereka juga ciptaan Allah yang patut aku hormati. Bukankah Nabi pernah berdiri untuk menghormati jenazah nonmuslim yang lewat di hadapannya?

Konteksnya akan berbeda dengan pengucapan selamat Natal. Hal itu dilarang agama karena berkaitan dengan penyembahan kepada selain Allah. Sebab, Natal adalah peringatan tentang kelahiran anak tuhan. Artinya, kalau kita ucapkan selamat Natal, berarti kita mengucapakan selamat atas kelahiran anak tuhan.

COBAAN SETELAH BER-ISLAM

Aku tidak memungkiri, pasti ada saja orang yang tidak menyukai keputusanku untuk memeluk Islam. Waktu itu, aku yang sedang bekerja  sebagai kasir di sebuah perusahaan milik orang Singapura, mendadak diberhentikan. Padahal, istriku, Margie Antonio Girop (Siti Maryam, 57 thn), saat itu sedang mengandung anak pertama. Pihak perusahaan beralasan kalau pelaksanaan ajaran shalat dari keyakinan agamaku, telah menghambat efektifitas pekerjaanku.

Dalam kesempatan bertemu dengan pihak perusahaan, aku tegas mengatakan, “Kalau pun gaji saya dinaikkan berlipat-lipat, tapi dengan syarat harus meninggalkan shalat, saya tidak akan mau. Lebih baik saya keluar.”

Aku merasa tidak pernah mengganggu jam kantor. Sebab, aku melaksanakan shalat Dzuhur saat jam makan siang. Dan bila menunaikan shalat Ashar, aku melaksanakannya setelah pulang jam kantor, sekitar jam empat sore. Lalu, apa yang mengganggu? Kalau masalah kejujuran, aku merasa sangatlah taat selama ini dalam mengikuti aturan.

Demi Allah, aku tidak pernah menyesal diberhentikan dari pekerjaan gara-gara memegang teguh ajaran Islam. Aku rela kehilangan penghasilan. Dan, aku tetap bersyukur kepada Allah atas rejeki dari pekerjaanku yang lalu.

Harta kekayaanku berupa enam buah mobil dan beberapa sepeda motor habis terjual untuk menutupi kebutuhan keluarga. Hidupku yang serba berkecukupan telah berubah. Hampir selama enam tahun aku benar-benar tidak punya penghasilan tetap. Tapi sekali lagi, aku tidak pernah menyesal telah ber-Islam. Allah pasti tidak akan rela melihat hamba-Nya terus berada dalam kesulitan.

Ketabahan Rasulullah sholallahu ‘alayhi wassalaam menjadi cerminan bagiku untuk tetap kuat menjalani cobaan. Apa yang aku alami jelas tak sebanding dengan cacian, makian serta kekerasan fisik yang pernah menimpanya. Apalagi beliau pernah mengatakan untuk tidak membalas celaan, sebab orang yang sabar dan tabah pasti akan mendapatkan keberuntungan

Di saat kritis seperti itu, oleh Allah sub’hanahu wata’ala aku dipertemukan dengan KH. Abdul Muhyi, seorang ulama yang tinggal di daerah Bojong Gede, Jawa Barat. Ajaran dan nasehatnya langsung menyentuh hati dan pikiranku. Aku banyak belajar darinya tentang ilmu-ilmu agama melalui penjelasannya yang sederhana. Sebuah nasehat bijak beliau berikan,”Janganlah kamu menjadi ‘penyanyi’ yang hanya bisa melagukan, tapi tidak bisa mengamalkan isi dari lagunya.”

Disamping itu, aku juga berguru kepada Pak Natsir yang tak henti-hentinya membimbingku dalam masalah-masalah agama dan membuka pikiranku tentang wawasan social. Begitu juga dengan KH. Abdul Gafur, bapak dari Taufiq Ismail, yang selalu memberiku semangat untuk tetap tabah dalam menghadapi cobaan hidup.

Di sisi lain, ibu dan nenekku menjadi sosok perempuan yang banyak memberiku inspirasi tentang indahnya perbedaan. Mereka tidak pernah mempermasalahkan tentang kepindahan agamaku. Meski aku tahu, dalam hati kecil mereka tersimpan kekecewaan atas jalan yang aku tempuh.

Ternyata, Allah punya rencana lain untuk ibuku. Beliau yang sakit keras dan sedang menghadapi saat-saat sakaratul maut, akhirnya memutuskan untuk masuk Islam. Tidak lama berselang, adikku yang paling bungsu juga mengungkapkan keinginan yang sama. Peristiwa itu benar-benar merupakan hadiah terindah dalam hidupku.

Ada dua hal yang tidak bisa dibeli oleh manusia, yaitu hidayah dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

OPTIMISME HIDUP

Aku termasuk orang yang tak mau setengah-setengah dalam mempelajari sesuatu. Begitu halnya dalam mempelajari dan memahami ajaran Islam. Saking tekunnya, aku bisa menghafal surat Yasin dalam waktu satu bulan, Asmaul Husna hanya tiga jam, dan surat al-Kahfi selama tiga hari. Subhanallah.

Aku menyadari bahwa Islam adalah agama yang ajarannya selalu kontekstual dengan jaman. Tapi sayang, kekayaan khazanah pengetahuannya yang begitu luas masih belum tergarap secara maksimal.

Optimisme yang menjadi ruh kehadiran Islam, tidak serta merta mengaliri semangat hidup umat Islam kebanyakan. Kita tidak mau belajar dari etos kerja yang diperlihatkan orang-orang Cina. Pagi-pagi mereka sudah dalam rangka mencari penghasilan. Beda dengan kita yang lebih memilih mendekap bantal sambil bermimpi kejatuhan bulan. Padahal, Allah Sub’hanahu wata’ala telah menyuruh kita selepas Subuh untuk menyebar ke segala penjuru bumi untuk mencari rezeki.

Kita masih saja berhenti pada tingkat pelafalan ayat-ayat al-Qur’an, tapi melupakan aplikasinya dalam kehidupan. Menurutku, sikap seperti ini harus segera ditinggalkan kalau umat Islam mau bersaing dengan masyarakat global. Sebab, setelah sekian lama kita melakukan pembacaan al-Qur’an secara konvensional tadarusan ansich—belum juga merubah keadaan umat Islam. Perlu diingat, Allah tidak akan merubah suatu kaum apabila mereka tidak mau merubahnya sendiri!

AKTIFITAS KEAGAMAAN DAN HARAPAN

 

Tak bisa diam sudah menjadi sifatku. Aku langsung terpanggil melihat kondisi masjid dekat rumahku yang sepi dari kegiatan keagamaan. Lantas bersama-sama dengan tokoh masyarakat setempat, kami mulai kembali menghidupkan kegiatan-kegiatan keagamman. Alhamdulillah, kini keadaannya jauh lebih baik. Sampai akhirnya, aku dipercaya untuk menjadi salah satu pengurusnya.

Bersama teman-teman, aku juga mendirikan Majelis Dzikir Wali Sembilan. Sebuah kegiatan yang bertujuan untuk mengasah kepekaan batin di tengah kehidupan yang semakin semrawut ini. Kami biasanya berkumpul setiap malam ahad secara bergiliran dari rumah ke rumah.

Entah dengan dasar kriteria apa, di usiaku yang mulai senja ini, aku dipercaya umat untuk mengurusi sebuah gedung berlantai tiga, milik Bank Bukopin. Lokasinya berada di Blok A 2. Glodok Plaza dengan ciri khas kubah yang menempel di dindingnya. Lantai bawahnya yang semula kios, kemudian dialih fungsikan menjadi masjid yang kemudian diberi nama, Masjid al-Amin.

Sekarang, aku bekerja sebagai konsultan kesehatan. Sesekali untuk menutupi kebutuhan keluarga, aku bersama teman-teman membuat pajangan bunga dari plastik yang hasilnya disetorkan ke Mangga Dua. Alhamdulillah, hasil dari semua itu masih menghidupi keempat anakku, yaitu Novianty Saleha (30 thn), Imam Syarifuddin (28 thn), Shofiyyul Jamalullail (21 thn), dan M. Israil Nursalim (18 thn).

4 responses to this post.

  1. Posted by Antoni on 29 Maret 2011 at 7:03 pm

    Tolong berikan saya banyak informasi

    Balas

  2. Posted by toto on 23 Januari 2012 at 3:53 pm

    Maha Suci Engaku Yaa ALLAH Aja Wajala,Dzat MahaSuci Penguasa alam Semesta,
    Sholawat Serta salam tercurah untuk Manusia Termullia Sedunia, pembimbing umat akhir jaman ke alam yang terang bederang.
    Al-Fatihah kami Selau Kirimkan untuk Ustad Tan Gunawan,dan keluarganya semoga ALLAH AJA WAJALA selalu mencurahkan Rahmat dan memberikan keberkahan Lahir batin bagi Ustad Gunawan dan Keluarga serta jamaahnya,
    kami selalu berdoa dan memohon kepada ALLAH SWT di bukanya kembali program Dzikir rutin yg sudah lama terhenti, majelis Bina Qolbu.dalam membimbing sepiritualitas beribadah
    kami selaku perwakilan jamaah Majelis bina Qolbu Ustad Tan Gunawan Arief

    TOTO
    (jamaah Majelis Quran dan Majelis Bina Qolbu)

    Balas

  3. ingen mempelajari agam islam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: