Memelihara Jenggot

Oleh : T. Saidi Aluisyach

IMAM BUKHARI meriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi sholallahu ‘alayhi wassalaam, beliau bersabda: “Berbedalah dengan kaum musyrikin, peliharalah jenggot dan cukurlah kumis.”

Hadist di atas menjelaskan alasan perintah ini yaitu agar berbeda orang-orang dengan musyrik, yaitu orang-orang Majusi si penyembah api karena mereka biasanya menyunting jenggotnya bahkan ada yang mencukurnya.

Rasulullah sholallahu ‘alayhi wassalaam memerintahkan kaum muslimin agar berbeda dengan mereka, karena beliau ingin mendidik kaum muslimin supaya memiliki kepribadian tersendiri, berbeda secara lahir dan batin, berbeda kejiwaan dan simbol lahiriahnya karena jenggot merupakan lambang kesempurnaan laki-laki dan ciri khas yang membedakannya dengan wanita.

Yang dimaksudkan dengan memelihara jenggot bukan berarti tidak boleh memotongnya sama sekali karena jenggot kadang-kadang bisa sampai sangat panjang dan buruk serta mengganggu pemiliknya. Tetapi diperkenankan memotongnya apabila dirasa terlalu panjang dan lebat, biasanya dilakukan oleh sebagian ulama salaf. Iyads berkata, “Dimakruhkan bercukur, menggunting dan mencabut jenggot, tetapi kalau mengurangi kepanjangan dan ketebalannya maka hal itu bagus.”

Saya melihat, mayoritas kaum muslimin justru mencukur jenggotnya karena mengikuti jejak musuh-musuh agama dan penjajah negerinya dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Sebagaimana biasa terjadi bahwa pihak yang kalah biasanya mengikuti pihak yang menang dengan melupakan perintah Rasulullah untuk berbeda dari orang-orang kafir itu.

“Barangsiapa mengikuti suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka”

Banyak ahli fikih yang mengharamkan mencukur jenggot dengan alasan perintah Rasul untuk memeliharanya sebab perintah itu pada asalnya menunjukkan hukum wajib. Khususnya karena illat (alasannya) untuk membedakan diri dari orang kafir sedangkan membedakan diri dengan orang-orang kafir adalah wajib. Bahkan tidak terdapat satu pun riwayat yang menunjukkan adanya salah seorang salaf yang meninggalkan kewajiban ini.

Ibnu Tamiyah mengatakan, “Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ memerintahkan agar berbeda dari orang-orang kafir dan melarangnya menyerupai mereka secara total.” Apa saja yang diduga dapat menimbulkan kerusakan walaupun samar dan tidak jelas, yang berhubungan dengan hukum haram, maka meyerupai mereka secara lahir dapat menyebabkan tindakan menyerupai mereka dalam moral dan perbuatan-perbuatan yang tercela, bahkan terhadap aqidah sendiri. Pengaruh hal itu memang tidak dapat dikongkritkan dan kerusakan yang ditimbulkannya sendiri kadang memang tidak tampak transparan tetapi sulit dihilangkan. Sedangkan segala sesuatu yang dapat menyebabkan kerusakan diharamkan oleh syara’.

Dengan demikian saya melihat bahwa mengenai hukum mencukur jenggot ini terdapat 3 pendapat:

  1. Haram, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah dan lainnya.
  2. Makruh, sebagaimana yang diriwayatkan dalam Fathul Bari dari pendapat Iyads.
  3. Mubah, sebagaimana yang dikemukakan oleh ulama modern.

Barangkali pendapat yang lebih moderat lebih mendekati kebenaran dan lebih adil ialah pendapat yang memakruhkannya karena suatu perintah tidak selamanya menunjukkan hukum wajib sekalipun ditegaskan alasannya (illat) untuk berbeda dengan orang-orang kafir. Contoh terdekat ialah perintah untuk menyemir rambut agar berbeda dengan orang Yahudi dan Nasrani tetapi sebagian sahabat tidak menyemir rambutnya. Hal itu menunjukkan bahwa perintah tersebut menunjukkan hukum sunat. (H)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: