Betlehem, Salam Penghormatan Nabi Sholallahu’alayhi wasalam kepada Isa ‘alayhisalam

Meskipun kunjungan Nabi Sholallahu ‘alayhi wasalam ke kota Bait Lahm (Betlehem)—saat beliau dalam perjalanan ke Baitul Maqdis, dalam perjalanan Isra Mi’raj—adalah kunjungan yang singkat, namun ia mempunyai makna dan substansi yang besar. Terutama jika kita mengetahui bahwa kunjungan ini dilakukan karena diperintahkan oleh Rabb semesta alam. Dengan ditemani utusan pembawa wahyu, yaitu Jibril ‘alayhis salam.

Kunjungan tersebut pada hakikatnya bukanlah kunjungan biasa, tapi ia adalah kunjungan penglihatan dan penghormatan kepada salah seorang Nabi Allah yang saleh, yaitu Isa ‘alayhis salam. Ketika itu Nabi sholallahu ‘alayhi wasalam diperintahkan untuk turun dari Buraq yang mendarat di tanah Betlehem agar beliau sholat dua raka’at kepada Allah sub-hanahu wata’ala dan sebagai ucapan salam kepada Nabi Isa ‘alayhis salam.

Tidak ada salahnya apabila kota ini mendapat perhatian dari kita umat muslim dan dijadikan sebagai tempat berziarah. Karena Nabi Muhammad sholallahu ‘alayhi wasalam telah memberikan kemuliaan terhadap tempat tersebut dengan mengunjunginya.

Di kota suci, al-Quds asy-Syariif itu terdapat banyak rumah Allah yang tersebar di segenap penjuru, selain Masjid Aqsho dan Qubbatush-Shakhrah.

Betlehem bukanlah kota yang menjadi tempat domisili anggota keluarga Isa ‘alayhis salam dari keluarga Zakariya ‘alayhis salam. Akan tetapi, kota Nashirahlah yang menjadi tempat tinggal Siti Maryam karena dekatnya tempat itu dengan keluarganya di sana, yaitu Nabi Zakariya dan anaknya, Yahya ‘alayhis salam.

Menurut banyak riwayat, Maryam dan anak bibinya atau kerabatnya, yaitu Yusuf an-Najjar, atau tunangannya berangkat dari Nashirah ketika ia hamil dan bergerak menuju Betlehem. Hal itu dilakukan untuk mencatatkan nama keduanya sebagai penduduk kota tersebut, yang diharuskan oleh penguasa Romawi pada saat itu terhadap seluruh penduduk daerah ini. Dan sesampainya keluarga yang mulia ini ke batas kota Betlehem, mereka segera mendapati para penjemput mereka yang banyak sekali yang datang dari seluruh penjuru Palestina. Hal itu mendorong Maryam untuk tinggal di salah satu gua di sebuah gunung yang dekat kota tersebut. Dan di dalam gua tersebut datanglah malaikat Jibril, yang kemudian meniupkan ruh Al-Masih ‘alayhis salam.

Ketika Umar ibnul Khaththab rodiyallahu ‘anhu sampai ke Baitul Maqdis, ia didatangi seorang rahib dari Betlehem, yang berkata kepadanya, “Bersama saya, terdapat keamanan darimu terhadap Betlehem.” Umar berkata kepadanya, “Saya tak tahu tentang hal itu?” Maka dia pun menunjukkannya dan Umar segera mengetahuinya. Kemudian ia berkata kepadanya, “Keamanan benar akan kami tanggung, namun di setiap tempat dekat gereja Nasrani harus didirikan sebuah masjid bagi kaum muslimin, dan gereja itu tak dirobohkan.” Rahib itu berkata, “Betlehem ini dibangun sesuai dengan arah kiblat kalian. Oleh karena itu, jadikanlah dia masjid untuk kaum muslimin dan jangan robohkan gereja.” Maka Umar memberikan izin bagi gereja itu untuk tak dirobohkan dan dia pun shalat di arah yang ditunjukkan, di dalam gereja itu. Sementara itu ia memberikan kepada orang—orang Nasrani hak untuk menjaga penerangannya, pembangunannya dan pembersihannya. Kaum muslimin terus menziarahi Betlehem dan mengunjungi tempat itu serta shalat di situ, sambil mendapatkan riwayat dari generasi sebelumnya bahwa di tempat itu Umar ibnul Khaththab rodiyallahu ‘anhu pernah sholat. Ada yang mengatakan bahwa di tempat itu ada maqam Dawud dan Sulaiman ‘alayhis salam. (Mu’jam al-Buldan, vol. I, karya Syekh Imam Syihabuddin Yaqul Abdullah al-Humawi)

Ada informasi-informasi penting tentang kota ini, yang dipaparkan oleh al-Himyari dalam kitabnya ar-Raudh al-Mu’ath-thaar fi Khabar al-Aqthaar. Ketika ia berkata, “Betlehem di dekat Eilia di tanah Syam, ada gereja yang dinamakan dengan gereja Jasmaniyah, yang terletak satu farsakh darinya, di tanah datar Betlehem. Di situ dilahirkan Isa ‘alayhis salam dan di sana pula terdapat pohon kurma yang pernah menjatuhkan buahnya kepada Maryam, serta mata air yang darinya Maryam mandi dan bersuci. Juga tempat diletakkan Isa ‘alayhis salam setelah Maryam melahirkannya. Ia adalah kolam putih yang dijadikan oleh Maryam untuk memandikan Isa alayhis salam dan tempat itu dekat dengan mata air.

Di antara ensiklopedia Arab tertua yang berbicara tentang Betlehem Kristen adalah Dairaah Ma’aarif karya al-Muallim Butras al-Bustani yang cetakan pertamanya terbit pada tahun 1881 M. Di antara yang dikutip pengarang dari sejarawan Barat adalah perkataannya tentang Betlehem, Ia adalah kampung kuno di Palestina, bagian dari kota Sabt Yahuda yang berjarak enam mil dari Yerusalem ke selatan. Dan makna Betlehem adalah rumah roti. Dan kota ini juga dinamakan Betlehem Ifrana untuk membedakannya dengan Betlehem Zabulun. Ia terkenal dengan banyak peristiwa sejarah yang terjadi padanya, seperti kelahiran Dawud, penobatan Dawud menjadi raja, dan pembaptisan Samuel terhadanya.

Dalam Mausu’ah al-Mudun al-Falisthiniyyah, yang menyebut banyak hal tentang Betlehem, kota ini dinisbatkan kepada Dewa Lahama, sehingga dinamakan sebagai Bait Lahama. Setelah itu berubah menjadi Betlehem. Kota ini pertama kali disebut dengan nama Afrata, ketika Nabi Ya’qub ‘alayhis salam datang ke kota tersebut pada abad dua belas sebelum Masehi. Yaitu, setelah ia keluar dari negerinya di Binin dan dalam perjalanannya menuju Khalil, tempat kuburan ayahnya, Ishaq ‘alayhis salam dan kakeknya, Ibrahim ‘alayhis salam beserta istri-istri mereka.

Kemudian ia terpaksa berhenti di situ karena istrinya tiba-tiba ingin melahirkan di dekat kota tersebut. Istrinya ketika itu mendapat kesulitan dalam melahirkan sehingga ia meninggal setelah melahirkan Bunyamin, anak Ya’qub yang terkecil. Ia kemudian menguburkannya di kota tersebut, mendirikan sebuah tiang di kuburnya dan selanjutnya meneruskan perjalanannya ke Khalil.

Mausu’ah al-Falisthiniyyah dalam pembicaraannya tentang sejarah kota ini pada zaman lampau juga menegaskan bahwa kejadian terpentingnya yang paling penting adalah kelahiran Isa ‘’alayhis salam. Kemudian kota ini berada di bawah penjajahan Romawi hingga datangnya pembebasan yang dilakukan Islam pada tahun 648 M. Dan ketika itu Khalifah Umar ibnul Khaththab datang ke biara-biara suci.

Di Baitul Maqdis, ia menulis dokumen dan perjanjan untuk Patrick al-Quds Shafr–Wanius bahwa ia akan menjamin keamanannya. Dalam dokumen tersebut tertulis, “Agar bagi mereka keamanan, juga terhadap gereja dan biara mereka: yaitu qiyamah dan Betlehem, tempat kelahiran Isa ‘alayhis salam”.

Pada hari kedua dari kunjungan Umar ibnul Khaththab ke Baitul Maqdis, ia pergi dengan ditemani oleh Patrick Shafr Wanius ke Betlehem dan mengunjungi gereja serta melakukan shalat di sana. Maka dia pun shalat di dalam gereja di arah kiblat yang terhiasi pelbagai ornamen. Kemudian ia memberikan catatan kepada Patrick satu ketetapan bahwa tak ada seorang pun dari kaum muslimin yang boleh shalat di sini, kecuali satu orang saja. Setelah itu tak boleh orang melakukan shalat itu, tak boleh dijadikan tempat shalat Jum’at, juga tak boleh ada adzan di situ. Dan Umar ibnul Khaththab tak mengubah apa pun terhadap tempat tersebut.

Sumber: Tempat-tempat Bersejarah Dalam Kehidupan Rasulullah; Hanafi Muhallawi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: