Josh Hasan: “Andaikan Saya Bersyahadat Sejak Dulu”

Dahulu, saya bukanlah seorang Muslim. Saya mungkin memeluk agama Hindu dan menyembah sekitar 14.321 dewa. Dewa untuk anjing tetangga, dewa untuk bulan, atau bisa jadi dewa untuk telinga Evander Holyfield. Saya mungkin harus menyembah seluruh dewa itu, yang membuat saya merasa sakit hati dan membutakan logika saya. Sebab, saya mesti menaati gajah bertangan enam yang kerap dilihat pada sejumlah dinding restoran India Hindu, padahal gajah takut dengan seekor tikus.

Boleh jadi, saya memeluk agama Kristen dan menyembah Yesus Kristus. Tetapi, haruskah saya menyembah nabi yang tidak pernah menyebut dirinya Tuhan? Yesus bukanlah Tuhan, dan Tuhan bukanlah Yesus. Atau, bisa saja saya memilih Buddha. Namun, sekte mana yang paling benar? Apakah saya harus mendengarkan perkataan Dalai Lama mengenai cara menikmati hidup, yakni, “Bawalah tiga buah hanger, lalu pergilah ke Las Vegas!”

Saya tidak memilih salah satu di antara agama-agama tersebut. Akhirnya, saya memeluk Islam ketika saya belum mengetahui apapun. Setahun kemudian, saya mengucapkan syahadat. Dan, saya berandai bahwa saya mengucapkan syahadat pada masa lalu. Inilah kisah saya sebelum memeluk agama Islam. Dan, cerita tersebut dimulai saat usia saya mencapai 10 tahun.

A. Mempercayai Satu Tuhan

Ketika saya berusia 10 tahun, orang tua mendaftarkan saya di sinagoge konservatif setempat, di wilayah barat Yahudi, Brookline, Massachusetts. Saya dikirim ke sana untuk mempelajari bahasa Ibrani dan Yudaisme. Guru saya adalah orang Israel asli. Dahulu, ia mengajarkan Yudaisme dengan sangat baik. Ketika itu, saya benar-benar beriman kepada Tuhan, membaca kisah-kisah dari Taurat dan Perjanjian Lama, bahkan lebih taat ketimbang orang tua saya.

Saya berusaha untuk beribadah dan sabar, walaupun keluarga dan teman-teman saya tidak peduli dengan hal tersebut. Mengapa mereka seperti itu? Meskipun begitu, saya tetap taat beribadah. Ketika memperdalam Yudaisme, saya juga mencoba mempelajari Kristen, dan mempertanyakan alasan teman-teman saya yang mengikuti seorang pria yang namanya sering disia-siakan orang? Mengapa mereka tidak lebih menghormatinya? Bukankah ia adalah putra Tuhan?

Ketika saya sedang mengkaji tentang Yahudi dan Israel secara mendalam, saya mulai berpindah ke agama lain. Pada awalnya, saya melihat simbol bulan sabit dan bintang. Saya pun menyadari bahwa jutaan orang menyembah satu Tuhan, sebagaimana yang saya lakukan. Menurut saya, hal itu sangatlah luar biasa. Sebab, umat Islam membaca al-Qur’an dan menziarahi tanah suci.

Sayangnya, semua itu terhalangi oleh aktivitas untuk Israel. Saya pun dicuci otak terkait teroris Muslim yang menghancurkan Yahudi seperti dinamit. Dalam hal ini, kaum Yahudi dinilai baik, sedangkan orang-orang Arab dianggap jahat. Itulah yang dikatakan oleh teman-teman saya sekaligus tujuan implicit para guru. Dan, saya semakin jarang mendengar kabar tentang Islam hingga tahun 1999.

Pada pergantian tahun 1994 menuju 1995, keluarga saya berpindah sekte dan sinagoge. Mereka berubah dari konservatif menjadi reformis. Kami pun menjadi sangat liberal. Rabi kami bukanlah seorang kosher. Maka, kami sulit menyebutnya sebagai pemimpin spiritual. Dan, orang-orang menganggap kaum Yahudi sebagai pengikut Tuhan.

Pada suatu malam, kami duduk di tengah keramaian orang. Rabi memaksa kami agar terus terjaga. Hal itu didasarkan pada pengalaman menyenangkan saat ia memperhatikan para mahasiswi Boston College di sekitar rumahnya. Ia membuat banyak orang tertawa. Saya pun teringat ketika ia menyebut perkara haram di depan istrinya, Taurat, dan Tuhan. Ketidaksenangan saya terhadap Yudaisme mulai tumbuh. Akhirnya, saya mengetahui bahwa sebuah agama harus mengarah pada kebenaran. Dan, hal itu berkebalikan dengan Yudaisme Ortodoks.

B. Orang-orang Lain di Dalam Kitab Suci

Saya sangat terkesan dengan orang-orang Kristen yang sepertinya begitu hebat. Dalam pikiran saya, Yudaisme adalah agama yang sudah rusak, meskipun saya masih mempercayai Tuhan. Orang-orang Kristen tentu beriman kepada Tuhan, bukan?

Saya mendatangi misa, lalu berdiskusi dengan para pendeta. Meskipun saya telah berdiskusi dengan mereka, tetapi saya masih sulit meyakini bahwa Yesus adalah Tuhan. Saya tetap memaksakan diri, dan saya menyembah “seorang anak laki-laki”. Saya terus memaksa diri saya, namun saya tak kunjung menemukan jawabannya. Saya tidak bisa memahami hal tersebut, tetapi saya tetap mempelajari katekismus dan membaca doa.

Saya tidak dibaptis. Maka, saya bukanlah seorang Katolik. Untuk menjadi seorang Katolik, saya harus belajar terlebih dahulu selama sembilan bulan. Bagaimana jika saya meninggal lebih cepat sebelum saya menjadi Katolik lantaran dilarang oleh pendeta? Saya terus menemukan kekurangan dalam doktrin-doktrin Kristen. Para pendeta tampaknya mengetahui hal tersebut, tetapi tetap saja mengajarkannya.

Sekitar tahun 1996, saya meninggalkan kelas Konfirmasi dan berhenti mempelajari Kristen, meskipun saya bukanlah seorang Kristen. Saya belum “diselamatkan”, dan saya tidak mempedulikan hal itu. Inilah yang membuat orang tua saya marah, karena saya meninggalkan gereja Katolik. Saya tetap beriman kepada satu Tuhan. Hingga sekarang, saya masih mempertanyakan penyebab hal tersebut. Kurang dari seminggu, setelah saya meninggalkan gereja untuk selama-lamanya, saya sudah siap untuk mempelajari agama terakhir Tuhan.

C. Penangguhan yang Luar Biasa

Ayah sangat senang lantaran saya tidak lagi berminat terhadap Katolik, dan saya pun mulai tertarik dengan Islam. Ia mengajak saya ke perpustakaan. Di sana, saya diperlihatkan Encyclopedia Britannica. Dalam buku itu, diterangkan bahwa Nabi Muhammad sholallahu ‘alayhi wasalam membantai kaum Yahudi. Hal tersebut membuat saya sedih dan bingung. Saya sangat marah lantaran beliau dianggap telah membantai kaum Yahudi. Setelah itu, saya tidak mengetahui tindakan yang harus dilakukan. Saya merasa tak lagi tertarik dengan Islam, walaupun masih meyakini Tuhan. Saya mengetahui bahwa Yudaisme sudah rusak. Demikian halnya dengan Kristen. Kini, saya menyadari bahwa ensiklopedia inilah yang rusak.

Saya mulai mencari masjid setempat. Ada sebuah masjid yang saya temukan secara kebetulan. Saya menemukannya di sebuah situs di kota Boston. Dengan sabar, saya menunggu modem bekerja, dan akhirnya sebuah situs terbuka. Di sana, saya disapa dengan ucapan “Assalamu’alaikum”. Saya mencermati alamat yang tertulis di situ, kemudian saya merencanakan sebuah perjalanan. Sungguh senangnya bisa menemukan masjid di Boston, sehingga saya tidak perlu pergi ke Mesir, Yordania, dan Yaman.

Pada tanggal 29 Februari 1999, saya menyusuri Jalan Prospect dan melihat sebuah masjid. Saya mencari sebuah pintu, dan di sana ada sebuah tulisan “Pintu masuk perempuan”. Saya tidak mengetahui maksud kalimat itu. Maka, saya mengelilingi masjid dan berharap menemukan tempat masuk untuk laki-laki. Tiba-tiba, saya merasa gugup ketika menemukan pintu masuk untuk laki-laki. Saya belum pernah bertemu dengan Muslim, dan sama sekali tidak mengetahui reaksi mereka saat bertemu dengan saya. Saya merasa harus menyembunyikan identitas saya sebagai seorang Yahudi. Selanjutnya, saya masuk ke dalam masjid.

Saya mendatangi seorang laki-laki seraya berkata, “Saya datang kemari untuk mempelajari Islam.” Setelah berucap seperti itu, saya menunggu reaksinya. Ternyata, ia berujar, “Maaf, saya tidak bisa berbahasa Inggris.” Kemudian, ia masuk ke ruang utama, dan saya pun mengikutinya. Saya tidak yakin bahwa ia sengaja meninggalkan saya. Saya melihat ke sekeliling dalam ketidakberdayaan terhadap Allah. Saya tidak mengetahui tindakan yang mesti saya lakukan. Ia kembali mendatangi saya disertai beberapa orang. Mereka berbicara kepada saya secara bersamaan. Hal tersebut membuat saya kewalahan, tetapi saya tetap merasa senang. Sebab, itu menunjukkan betapa pentingnya Islam bagi kaum Muslim.

Mereka memberikan sebuah buku berjudul A Brief Illustrated Guide to Islam kepada saya. Dan, hanya sekejap, saya sudah bisa mengucapkan syahadat. Saya membutuhkan waktu sembilan bulan untuk menjadi seorang Katolik. Dan, saya memerlukan waktu lebih lama lagi untuk menjadi seorang Yahudi. Namun, dalam sekejap mata, saya dapat memeluk agama Islam.

Hari itu, saya memang tidak langsung memeluk agama Islam, tetapi hari tersebut adalah Sabtu yang menyenangkan bagi saya. Saya bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara. Keberagaman ini membuat saya semakin meningkatkan kadar ketaatan kepada Allah sub-hanahu wata’ala.

Lebih dari setahun, akhirnya saya memeluk agama Islam. Selama itu, saya pernah mengalami peristiwa penembakan di Bronx saat saya sedang berkendara. Sebuah peluru menembus kaca belakang, dan jarak peluru ini hanya beberapa cm saja dari kepala saya. Syukurlah, saya selamat tanpa terluka sedikit pun. Dan, saya bisa melupakan peristiwa itu dengan cepat.

Pada bulan Mei 2000, saya naik kereta api menuju masjid di Cambridge. Saat itu, saya membawa sebuah buku berbahasa Arab. Sebab, saya merasa sudah waktunya untuk mempelajari bahasa. Dan, saya mengkaji Islam dengan segenap keyakinan.

Saya bertemu dengan seorang Muslim yang sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Ia bertanya kepada saya mengenai agama saya sekarang. Selanjutnya, kami berdiskusi tentang Islam. Ia menjelaskan bahwa jika saya terjebak dalam kecelakaan tempo hari, maka saya mati sebagai nonmuslim. Dan, kelak saya disiksa di neraka. Ia menceritakan kembali tentang rincian peristiwa pada bulan Desember, tetapi saya sudah melupakannya.

Pada siang hari yang sama, saya duduk di masjid dan memperhatikan umat Islam yang sedang menunaikan shalat Zhuhur. Mereka terlihat begitu tidak berdaya dan setan pun menjauh. Saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Saya bertanya mengenai perasaan menjadi Muslim kepada mereka, tetapi niat saya masih belum bulat untuk memeluk agama Islam. Setelah shalat, saya mengatakan kepada teman saya bahwa saya ingin masuk Islam saat itu juga.

Tiga bulan kemudian, sewaktu saya menulis testimonial ini, saya mengetahui bahwa mengucapkan syahadat adalah hal terbaik yang pernah saya lakukan. Dan, andaikan saya bisa melakukan hal tersebut sejak dahulu.

Sumber:

Lubis, Nisrina. Kisah-Kisah Inspiratif Para Muallaf Dunia. Yogyakarta: DIVA Press. 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: