Kupu-Kupu Ahmadiyah

(Titik Puspa mode: On)

Ada yang benci dirinya…….

Ada yang butuh ditinya……

Ada yang berlutut mencintainya……

Ada pula yang kejam menyiksa dirinya…..

Ini hidup, para pengikut sesat Ahmadiyah……..

(Titik Puspa mode: Off)

Apa sih Ahmadiyah itu?

Ahmadiyah adalah sebuah aliran sesat yang didirikan oleh seorang yang mengaku rasul terakhir, nabi yang paling mulia, seorang Al-Masih, Imam Mahdi yang ditunggu. Wow…. Siapa yang tidak mau punya pemimpin yang punya jabatan 3 sekaligus? Ya, inilah Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani. Untuk lebih lengkapnya, check it out!

Kelahiran Sang “Mesias”

Puteranya yang mashur, Bashiruddin Mahmud Ahmad (1899-1965) yang menduduki tahta khalifah kedua dalam jema’at Ahmadiyah, menulis tentang saat-saat kelahiran ayahnya, sebagai berikut:

“Hazrat Ahmad a.s. lahir pada tanggal 13 Pebruari 1835 sesuai dengan 14 Syawal 1250 hijrah, hari Jum’at pada waktu shalat shubuh, di rumah Mirza Ghulam Murtaza di desa Qadian. Beliau lahir kembar, yakni beserta beliau lahir pula seorang anak perempuan yang tidak berapa lama meninggal dunia. Demikianlah sempurna kabar ghaib yang telah ada dalam buku-buku Agama Islam, bahwa Imam Mahdi akan lahir kembar.” (lih. Bashiruddin Mahmud Ahmad, Riwayat hidup hazrat Ahmad a.s., 1966, Djemaat Ahmadiyah tjabang Djakarta, hal. 2, terjemah oleh Malik Aziz Ahmad Khan.)

Demikian Bashiruddin M.A. menceritakan kelahiran ayahnya. Yang menjadi pertanyaan disini ialah, oleh siapa dan pada siapa kabar ghaib lahir kembar itu telah disampaikan? Kemudian dalam buku-buku Agama Islam yang mana kabar itu dimuat?

Orang Mongol atau Persia?

Dia menceritakan: Namaku Ghulam Ahmad. Ayahku Atha Murthada. Bangsaku Mongol. (Kitab Al-Bariyyah, hal. 134, karya Ghulam Ahmad). Namun dalam kesempatan lain, ia mengatakan, keluargaku dari Mongol… tapi berdasarkan firman Allah, tampaknya keluargaku berasal dari Persia, dan aku yakin ini. Sebab tidak ada seorang pun yang mengetahui seluk-beluk keluargaku seperti pemberitaan yang datang dari Allah Ta’ala (Hasyiah Al-Arbain, no. 2 hal. 17, karya Ghulam Ahmad). Dia juga pernah berkata : “Aku membaca beberapa tulisan ayah dan kakek-kakekku, kalau mereka berasal dari suku Mongol, tetapi Allah mewahyukan kepadaku, bahwa keluargaku dari bangsa Persia” (Dhamimah Haqiqati Al-Wahyi, hal. 77, karya Ghulam Ahmad). Yang mengherankan, ia juga pernah mengaku sebagai keturunan Fathimah binti Muhammad [Tuhfah Kolart, hal. 29]

Salah satu atribut yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad yang menunjukkan bahwa dia merupakan garis keturunan Mongol adalah nama depannya yaitu “Mirza”.

Menurut Bashiruddin Mahmud Ahmad, perkataan atau sebutan nama MIRZA adalah untuk menyatakan bahwa ayahnya keturunan dari MUGHAL (Mongol). Bashiruddin melanjutkan bahwa ayahnya itu adalah keturunan haji Barlas, raja daerah Kesh, yang jadi paman Amir Tughlak Taimur. (lih. M.B.M.A., riwayat hazrat Ahmad a.s., hal. ½)

Disinilah kiranya kena keturunan Mongol Mirza Ghulam Ahmad. Lebih lanjut Bashiruddin menulis:
“Dalam tahun-tahun yang akhir dari kerajaan Keiser Babar, yakni pada tahun 1530 masehi, seorang Moghol bernama Hadi Beg meninggalkan tanah tumpah darahnya ialah Samarkhand dan pindah ke daerah Gurdaspur di Punjab.” (lih. M.B.M.A., riwayat hazrat Ahmad a.s., hal. 6)

Hadi Beg inilah yang mendirikan kota Qadian, tempat lahirnya Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya. Hadi Beg adalah termasuk dalam urutan yang keduabelas ke atas dari kakek-kakek Mirza Ghulam. Akhirnya lebih meyakinkan lagi tentang keturunan mogholnya itu, ayah Mirza Ghulam Ahmad, Mirza Ghulam Murtaza memberi tahu anaknya bahwa nenek-nenek moyangnya adalah dari keturunan Mongol. (lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Istiftha’, 1378 hijrah, Rabwah Matba’ah an Nasrah. hal. 75: (fi kitab sawaanah abaaii wa sami’tu min abi an abaaii kaanuu min-al-jarthumah almuqliyah). Al-jum’iyat-ul-syrargiyah linasyru-al-kutub-diniyah Rabwah.)

Entah mengapa si Nabi Palsu ini ingin menutup-nutupi ras Mongol-nya dengan ras Persia?

Dia berkata:

“Aku mendengar dari ayahku bahwa kakek-kakekku berdarah Moghol, akan tetapi aku mendapat wahyu dari Tuhan, bahwa kakek-kakekku berdarah Parsi.” (lih. Mirza Ghulam Ahmad, Al-Istiftha’, hal. 75: (wa lakin Allah auhii ilaa annahum kaanu min bani Fares, la minal aghwaan turkiyah.))

Akhlak Sang “Rasul”

Seorang rasul atau nabi tentunya memiliki perangai yang baik, dalam ucapan maupun perbuatannya. Sebab, seorang yang mengaku utusan Allah tentulah dia harus bisa menjadi suri tauladan bagi seluruh manusia.

Tetapi, pernahkah Anda membayangkan ketika Anda berhadapan muka dengan Mirza Ghulam Ahmad dan berkata kepadanya, “Kamu adalah Nabi Palsu!”?

Dia pernah mengatakan, melalui “wahyu” yang konon diterimanya, bahwa salah seorang seterunya akan mati pada waktu tertentu. Tetapi ternyata, seteru yang ia sebutkan tidak mati. Maka para ulama pun menyanggahnya dengan mengatakan : “Engkau katanya nabi, tidak berbicara kecuali dengan wahyu. Bagaimana mungkin janji Allah tidak tepat?”

Menanggapi bantahan dari para ulama ini, Mirza Ghulam Ahmad bukannya memberi jawaban dengan bukti dan dalil, tetapi justru melontarkan cacian : “Orang-orang yang menentangku, mereka lebih najis dari babi” [Najam Atsim, hal. 21, karya Ghulam Ahmad].

Ironisnya lagi, Mirza Ghulam Ahmad  pernah mencela seorang ulama dengan ucapan “hai anak pelacur”. (Najim Atsim, hal. 228, karya Ghulam Ahmad). Ucapan itu tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, tetapi sangat sering dilontarkan Mirza, “sang mujaddid akhlak”.

Mirza Ghulam Ahmad Sang Anak Tuhan (?)

Tidak cukup hanya menjadi seorang Nabi, Rasul, Mesias, Al Mahdi, dan akhirnya Mirza Ghulam Ahmad hendak menyamakan dirinya dengan Tuhan. Perhatikan sabda-sabdanya berikut ini:

“Aku lahir sebagai satu kodrat Tuhan yang berjasad. Aku adalah kodrat Tuhan dan ada lagi beberapa wujud yang jadi mazhar cermin, tempat zahir kodrat kedua. Sebab itu senantiasalah kamu berhimpun sambil berdoa menanti kodrat tuhan yang kedua itu.” (Mirza Ghulam Ahmad, Al-Wasiyat, terjemah A. Wahid H.A. Jakarta Neraca Trading Company, 1949, hal. 12.)

Selanjutnya sebagai kodrat Tuhan yang berjasad, Mirza Ghulam Ahmad masih ada padanya beberapa wujud yang lain, antara lain tuhannya sendiri telah berkata padanya:
“Wahai sang rembulan, wahai sang surya Mirza, Engkau dari AKU, dan Aku dari Engkau.” (Mirza Ghulam Ahmad, Fountain of Christianity, Rabwah m.f.m.o., 1961, hal. 45: dan – Istifta hal. 80: (ya qamar ya syamsu Anta mimu wa Ana minka))

Mirza Ghulam Ahmad terlalu membesar-besarkan dirinya, ataukah tuhannya yang sudah terlalu menyanjung-nyanjung Mirza? Perhatikanlah bagaimana Tuhan berkata tentang Mirza:

“Ya Ahmad, nama-Mu bisa sempurna, tapi nama-Ku tidak bisa sempurna.” (‘ya Ahmad yutimmu ismuka, wa la yutimmu ismii’). (Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 25)

“Wahai Ahmadku, Engkaulah tempat keperluanku, dan Engkau beserta Aku.” (‘ya Ahmadi Anta muraadi wa ma’ii.’). (Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 23)

“Engkau Mirza terpandang di hadirat-Ku, AKU pilih engkau bagi Diri-KU.” (‘wa Anta wajiihun fi hadhroti ikhtartuka li nafsii’). (Mirza G.A., Tukhfah Bagdad, hal. 26 dan M.G.A., Alwasiyat, hal. 40)

“Engkau wahai Mirza bagiku adalah seperti tauhidku dan ketunggalanku.” (Mirza Ghularn Ahmad, Istifta’, hal. 82-juga lih. al-Wasiyat, hal. 36. (anta minni bimanzilati tauhidi wa tafridi))

“Engkau wahai Mirza bagiku adalah seperti anakku- anakku.” (M.G.A., Istifta, hal. 82, juga lih. M.G.A., Fountain of Christianty, hal. 45: (anta minni bimanzilati aulaadi)).

Bukan main! Alangkah hebat kedudukan Mirza. Apakah lagi yang kurang untuk ditambahkan untuk mempertinggi derajat Mirza Ghulam di sisi tuhannya? Tentu saja hal itu masih kurang, kata Mirza dan Ahmadiyahnya. Bahkan itu masih jauh daripada derajat yang diperoleh Mirza Ghulam Ahmad.

Dengan pangkat yang demikian muluknya Mirza Ghulam telah sampai pada derajat yang tiada terjangkau lagi oleh Yesus Kristus kaum Nasrani. Bahkan Tuhan berkata pada Mirza Ghulam Ahmad:

“Apabila engkau wahai Mirza menghendaki sesuatu apa saja, maka cukup engkau katakan: jadilah, maka jadilah ia.” (M.G.A., Istifta’, hal. 88: innama amraka idza aradta syai’anan taqula lahu Kun Fa yakun.))

Kematian Tragis Sang “Anak Tuhan”

Menyaksikan sepak terjangnya yang kian menjadi, maka para ulama saat itu berusaha menasehati Mirza Ghulam Ahmad, agar ia bertaubat dan berhenti menyebarkan dakwahnya yang sesat. Nasihat para ulama ternyata tidak membuahkan hasil. Dia tetap bersikukuh tidak memperdulikan. Akhirnya, para ulama sepakat mengeluarkan fatwa tentang kekufurannya. Di antara para ulama yang sangat kuat menentang dakwah Mirza Ghulam Ahmad, adalah Syaikh Tsanaullah.

Mirza Ghulam Ahmad sangat terusik dengan usaha para ulama yang mengingatkannya. Akhirnya dia mengirimkan surat kepada Syaikh Tsanaullah. Dia meminta agar suratnya ini dimuat dan disebarkan di majalah milik Syaikh Tsanaullah.

Di antara isi suratnya tersebut, Mirza Ghulam Ahmad tidak menerima gelar pendusta, dajjal yang diarahkan kepadanya dari para ulama masa itu. Mirza Ghulam Ahmad menganggap dirinya, tetap sebagai seorang nabi, dan ia menyatakan bahwa para ulama itulah yang pendusta dan penghambat dakwahnya.

Sang nabi palsu ini menutup suratnya dengan do’a sebagai berikut :

“Wahai Allah Azza wa Jalla Yang Maha Mengetahui rahasia-rahasia yang tersimpan di hati. Jika aku seorang pendusta, pelaku kerusakan dalam pandangan-Mu, suka membuat kedustaan atas nama-Mu pada waktu siang dan malam hari, maka binasakanlah aku saat Ustadz Tsanaullah masih hidup, dan berilah kegembiraan kepada para pengikutnya dengan sebab kematianku.

Wahai Allah ! Dan jika saya benar, sedangkan Tsanaullah berada di atas kebathilan, pendusta pada tuduhan yang diarahkan kepadaku, maka binasakanlah dia dengan penyakit ganas, seperti tha’un, kolera atau penyakit lainnya, saat aku masih hidup. Amin”

Begitulah bunyi do’a Mirza Ghulam Ahmad. Sebuah do’a mubahallah. Dan benarlah, do’a yang ia tulis dalam suratnya tersebut dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla. Yakni 13 bulan lebih sepuluh hari sejak do’anya itu, yaitu pada tanggal 26 bulan Mei 1908M, Mirza Ghulam Ahmad ini dibinasakan oleh Allah Azza wa Jalla dengan penyakit kolera, yang dia harapkan menimpa Syaikh Tsanaullah. Di akhir hayatnya, saat meregang nyawa, dia sempat mengatakan kepada mertuanya : “Aku terkena penyakit kolera”. Dan setelah itu, omongannya tidak jelas lagi sampai akhirnya meninggal. Sementara itu, Syaikh Tsanaullah masih hidup sekitar empat puluh tahun setelah kematian Mirza Ghulam Ahmad.

 

Sumber : Abdullah Hasan Alhadar; Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah

One response to this post.

  1. Yang perlu dikaji secara mendalam dari sisi sejarah, sosial dan psikologis adalah bagaimana prosesnya shingga aliran Ahmadiyah ini sampai mempunyai pengikut, bahkan hingga ke Indonesia.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: