Konsekuensi Syahadat Rasul

Saya teringat ketika dosen agama Islam saya bertanya kepada para mahasiswa, “Siapa yang cinta kepada Rasul, angkat tangannya!” Tak ada yang mengangkat tangan melainkan sedikit sekali. Setelah itu, dosen saya bertanya kembali, “Siapa yang tidak cinta kepada Rasul, angkat tangannya!” Juga tak ada yang mengangkat tangannya. Membingungkan memang. “Tanya kenapa?” Tapi inilah fakta keadaan umat Muslim mayoritas saat ini.

Saya juga teringat dengan informasi yang disampaikan oleh mentor ngaji saya bahwa dari 100% umat Muslim di dunia, yang menjalankan sholat lima waktu hanya dua persennya saja. Bayangkan saja, seandainya di suatu kampung ada seratus warga Muslim, maka yang sholat berjama’ah di Masjid atau Musholla hanya dua orang saja, yang satu imam, yang satu mu’adzin, keduanya memang pengurus Musholla sejati. Ya, memang bisa dirasakan keadaan seperti ini.

 

Tetapi di sisi lain, ketika ada pertandingan sepakbola atau konser musik, maka para ummat berbondong-bondong dari segala penjuru bangsa nun jauh datang memenuhi panggilan hawa nafsu, berdesak-desakkan hanya untuk melihat performance idolanya. Ketika pertandingan sepakbola usai dan pemain idolanya mengalami kekalahan, sang ummat (baca: supporter) tak mau berpikir panjang untuk ber’jihad’ memerangi supporter lawan. Ini membuktikkan bahwa umat Muslim mayoritas telah berdiri di atas benang yang sebentar lagi bisa putus kalau tidak cepat diganti dengan rantai kapal yang kuat. Ibaratnya seperti buih di atas lautan, terombang-ambing ke manapun ombak membawa.

 

Sholat subuh dilewati, tahlilan jalan terus. Sholat dalam setahun cuma dua kali, baca Yasin di kuburan setahun juga dua kali. Malaikat yang ada di kanan kiri tidak pernah diberi salam, setiap masuk bangunan memberi salam kepada jin, entah jinnya kafir atau Muslim. Sunnah dan Bid’ah dicampuradukkan.

 

Tidak diragukan lagi, bahwa sunnah itu bagaikan kapal Nabi Nuh ‘alayhis salam, barangsiapa yang menaikinya niscaya ia akan selamat dan barangsiapa meninggalkannya niscaya ia akan binasa. Mengikuti Sunnah adalah konsekuensi kita terhadap apa yang kita ikrarkan dari Syahadat Rasul. Setiap kita bersyahadat mengakui Muhammad sholallahu ‘alayhi wa salam sebagai Rasul: “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah” berarti kita telah menerima konsekuensinya, yaitu:

1. Mencurahkan cinta kepada Muhammad Rasulullah. Apabila kita mencintai seseorang, pasti kita akan melakukan apa pun yang diperintahkan orang tersebut. Dalam hal ini, Rasulullah sholallahu ‘alayi wa salam telah membimbing kita melalui sunnah-sunnahnya.

2. Menjadikan dan menerima Muhammad sholallahu ‘alayhi wa salam sebagai “the best model” dalam aspek kehidupan, baik dalam peribadatan khusus maupun dalam kehidupan sosial lainnya. Beliau sholallahu ‘alayhi wa salam telah memberikan banyak tauladan mulai dalam urusan rumah tangga, peperangan, pemerintahan, bisnis, sampai urusan pribadi. Apa yang bisa Justin Bieber dan Briptu Norman Kamaru lakukan? Bahkan Michael Hart dalam bukunya A Rangking of 100 Most Influential Persons in the World mencantumkan Nabi Muhammad sholallahu ‘alayhi wa salam ke dalam urutan pertama sebagai manusia paling berpengaruh di dunia. Di dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab 33:21)

3. Menjadikan hadits Rasul sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Pertanyaannya adalah: “Apakah cara beribadah dan akhlak kita sudah benar-benar berlandaskan hadits (shahih) Rasulullah sholallahu ‘alayhi wa salam, ataukah cuma ajaran keturunan saja?” Ada yang mengatakan Muslim yang beribadah berdasarkan ajaran keturunan adalah “Muslim by Birth”. Dan kita tidak bisa menggunakan hadits dho’if (lemah) sebagai patokan. Sebab, Rasulullah sholallahu ‘alayhi wa salam bersabda: “Barangsiapa mengatakan sesuatu atas namaku, sedangkan aku sendiri tidak pernah mengataknnya, maka hendaklah dia mengambil tempat duduk di dalam neraka.” (HR. Bukhari). Implikasi hadits tersebut menyuruh kita untuk berhati-hati dalam menerima dan mengamalkan segala sesuatu yang berhubungan dengan hadits.

 

Sehingga kesimpulannya adalah, manifestasi syahadat dan kecintaan kita kepada Rasulullah sholallahu ‘alayhi wa salam adalah dengan mengamalkan sunnah dan meninggalkan segala bentuk bid’ah, karena di dalam bid’ah itu tersimpan tuduhan yang keji terhadap Rasulullah sholallahu ‘alayhi wa salam dan tuduhan terhadap syari’at Allah yang telah sempurna ini. Menolak ketauladan Muhammad sholallahu ‘alayhi wa salam berarti menggugurkan Syahadat Rasul.

 

“I testify that Muhammad is the Messenger of Allah”

ﻤﺤﻤﺪﺍﺮﺴﻮﻞﺍﷲ

 

One response to this post.

  1. Posted by yendriyuda on 4 Mei 2013 at 12:51 am

    Alhamdulillah, SEMOGA KITA TERMASUK ORANG-ORANG YANG MENCINTAI RASULULLAK Salallahu’alaihiwassalam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: