“Mengapa Saya Memilih Islam (Ahlus Sunnah wal Jama’ah)?”

Ini bukanlah kisah mualaf, bukan juga kisah murtadin. Bukan kisah mantan pendeta yang masuk Islam atau kesaksian dusta orang yang mengaku bertemu sosok manusia berambut gondrong bercahaya yang mengaku Tuhan. Ini adalah kisah saya sendiri. Seorang remaja yang terlahir dari keluarga beragama Islam, walau mereka tak pernah memarahiku kalau saya tidak sholat, saya sangat menghormati mereka. Kami bukanlah umat Muslim yang terlalu taat, tetapi saya akan bercerita sedikit mengapa saya menjadi taat. Ukuran taat disini setidaknya ialah bisa menjaga sholat lima waktu.

Saya mulai bisa menjalankan sholat lima waktu kira-kira pada waktu saya masih kelas satu SMA. Pada waktu itu, saya menghadiri majelis ta’lim dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj. Ketika itu, sang ustadz berceramah mengenai kewajiban sholat dan hukuman bagi orang yang tidak sholat. Karena pada waktu itu saya anak yang jarang sholat, mungkin dalam seminggu hanya sholat jum’at saja. Saya menjadi sangat ketakutan setelah mendengar ceramah sang ustadz. Apakah ketika saya mati saya akan disiksa di alam kubur karena tidak sholat? Inilah yang menghantui saya. Saya mulai rajin sholat walau pada awalnya saya tidak tahu apa hakikat sebenarnya dari sholat. Bisa dibilang sholat saya adalah sholat model robot, berdiri, rukuk, sujud, berdiri lagi, mulut komat-kamit tidak tahu arti bacaan yang saya baca. Saya hanya ikut-ikutan.

Pada suatu hari, saya punya teman yang memperkenalkan kepada saya mengenai sebuah aplikasi chatting. Dari aplikasi kecil yang tidak penting inilah hidup saya mulai berubah. Pada mulanya saya hanya menggunakan aplikasi chat ini untuk chatting dengan orang-orang yang sibuk mencari jodoh. Tapi entah mengapa tiba-tiba ada yang membimbingku untuk ke chatroom Islam. Disana saya bertemu banyak teman yang pintar agama. Saya banyak mengobrol dan bertanya kepada mereka tentang agama. Dari situ juga saya mulai mengenal dunia perdebatan. Terkadang saya melihat sesama Muslim berdebat karena beda paham, terkadang juga banyak orang Kristen yang masuk ke sana dan berdebat dengan yang Muslim.

Dari situ juga saya mulai mengenal istilah ‘Bid’ah’ yang sebelumnya saya tidak pernah dengar. Apa itu Bid’ah? Mengapa orang sibuk membicarakan Bid’ah? Apa pentingnya? Dari menyaksikan perdebatan-perdebatan saya jadi mulai tahu apa itu Bid’ah. Pada awalnya yang saya tahu Bid’ah itu hanyalah amalan-amalan baru yang terbagi-bagi, ada Bid’ah yang bagus, ada Bid’ah yang jelek. Maklum, saya dapat dari sumber yang salah. Saya sempat membenci dan berdebat dengan mereka, kenapa ini Bid’ah, kenapa itu Bid’ah?

Akhirnya saya lebih condong kepada Ahlul Bid’ah. Saya sempat berdebat beberapa kali dengan kaum Salafi yang dituding sebagai Wahabi. Tapi Alhamdulillah, Allah memberikan saya hidayah. Saya mengira bahwa kaum yang dituduh Wahabi itu adalah kaum ekstrimis yang suka mengkafirkan sesama Muslim yang tidak sependapat. Saya mengira Wahabi itu adalah kaum yang suka berdemo menentang Pemerintah. Saya mendapatkan informasi yang salah pula bahwa kaum Wahabi suka berkoar-koar tentang Khilafah. Ternyata semua itu TERBALIK 180 DERAJAT!

Memang, mereka adalah kaum yang paling benci terhadap perbuatan Bid’ah. Namun saya berpikir, apa yang salah jika orang membenci Bid’ah? Bahkan Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wa salam pun juga membenci Bid’ah.

Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka. (HR. Muslim)

Kaum Wahabi bukanlah kaum yang suka mengkafirkan sesama Muslim, walau berbeda paham. Bahkan mengkafirkan sesama Muslim termasuk Bid’ah.

Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk. (HR. Bukhari dan Al Hakim)

Kaum Wahabi juga bukan golongan yang menentang pemerintah. Bahkan mereka berfatwa wajib hukumnya taat pada pemerintah yang Muslim.

Barangsiapa menghina penguasa Allah di muka bumi maka Allah akan menghinanya. (HR. Tirmidzi)

Barangsiapa tidak menyukai sesuatu dari tindakan penguasa maka hendaklah bersabar. Sesungguhnya orang yang meninggalkan (membelot) jamaah walaupun hanya sejengkal maka wafatnya tergolong jahiliyah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Barangsiapa membaiat seorang imam (pemimpin) dan telah memberinya buah hatinya dan jabatan tangannya maka hendaklah dia taat sepenuhnya sedapat mungkin. (HR. Muslim)

Hendaklah kamu mendengar, patuh dan taat (kepada pemimpinmu), dalam masa kesenangan (kemudahan dan kelapangan), dalam kesulitan dan kesempitan, dalam kegiatanmu dan di saat mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan sekalipun keadaan itu merugikan kepentinganmu. (HR. Muslim dan An-Nasaa’i)

Jika para pembaca tidak percaya dengan yang saya paparkan ini, tanyakanlah langsung kepada orang-orang yang Anda nisbatkan sebagai Wahabi. Ingat, Wahabi dan Khawarij itu beda. Mungkin Anda melihat FPI atau HTI? Kaum Salafi atau Wahabi Anda menyebutnya memiliki perangai yang lembut dan santun.

Saya memiliki beberapa teman yang termasuk golongan Salafi, baik di dunia maya atau di kehidupan sehari-hari saya. Mereka memang ramah, dakwah mereka sangat menarik, pembicaraannya santun dan tidak berlebihan, pembawaannya tenang dan santai. Jika mereka tidak mengetahui sesuatu mereka lebih memilih diam atau berkata, “Saya tidak tahu”.

Akhirnya lama-kelamaan tanpa saya sadari, saya mulai mengikuti jejak mereka. Dari gaya berpakaian, sholat, dan janggut. Dahulu saya senang mencabut janggut hingga bersih walau pun saya tahu dalilnya, yaitu hadis riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu:
Dari Nabi shalallahu ‘alayhi wa salam, beliau bersabda: Potonglah kumis dan panjangkanlah jenggot. (Shahih Muslim No.380), namun sekarang saya biarkan tumbuh. Saya tidak peduli apa jadinya wajah saya dengan janggut. Karena dari seluruh keluarga besar saya tak ada yang memelihara janggut seorang pun. Gaya berpakaian pun saya lebih suka menggulung celana panjang hingga di atas mata kaki.

Hadis riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu:
Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa salam bersabda: Allah tidak akan memandang orang yang menyeretkan pakaiannya dengan sombong. (Shahih Muslim No.3887)

Barangsiapa memanjangkan pakaiannya (sehingga menyeret di tanah) karena kesombongannya maka Allah tidak akan memandangnya kelak pada hari kiamat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dosen saya berkata, bahwa agama Islam sekarang ini telah mengalami pencampuradukkan dengan agama lain, alias tidak murni lagi. Banyak umat Muslim yang melakukan suatu ritual yang mereka mengira bahwa ritual itu adalah bagian dari ajaran Islam dan diamalkan oleh Nabi Muhammad sholallahu ‘alayhi wa salam, padahal bukan dan tidak pernah sama sekali. Oleh karena itu, muncullah gerakan-gerakan seperti Muhammadiyah, dan ada lagi yang menyebut sebuah golongan dengan sebutan Wahabi

Sebenarnya masih banyak cerita yang ingin saya sampaikan, mungkin akan menjadi sebuah buku. Tapi karena media dan waktu yang terbatas, maka saya sudahi sementara di sini.

4 responses to this post.

  1. Posted by sahabat dunia maya on 13 Mei 2011 at 3:08 am

    Alhamdulillah..

    Balas

  2. 🙂 subhanallah..

    Balas

  3. Posted by homramusa on 10 April 2013 at 9:27 am

    Masya allah, . . . . . . cerita anda menarik sekali. Kesalahan umat islam dewasa ini adalah mereka tidak ada waktu untuk membaca al-Qur’an. Padahal al-Qur’an itu panduan hidup manusia. Bagaimana ya caranya agar sodara2 kita yang belum menyadari betapa pentingnya membaca (dan mengerti artinya) segera sadar.

    Banyak orang non muslim menjadi muslim karena secara tidak sengaja membacra al-Qur’an. Disana mereka menemukan kebenaran, yg tidak ada pada kitab suci mereka, yaitu orisinilitas al-Qur’an sebagai wahyu Allah swt.
    Wassalam

    Balas

  4. Mohon dijelaskan mengenai Ahlussunnah, Salafi, Wahabi, Hizbutahrir dan Ikhwanul Muslimin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: