Salafi dan Teroris

Penampilan sama, ideologi berbeda. Ibaratnya seperti dua orang dokter, keduanya sama-sama memakai jas berwarna putih, bekerja di puskesmas yang sama, dan kuliah di universitas yang sama pula. Tetapi keduanya memiliki pemahaman yang berbeda-beda. Yang satu dokter gigi, dan yang satunya lagi dokter mata. Tentu dokter mata lebih paham tentang lingkup mata, sedangkan dokter gigi lebih paham tentang lingkup gigi. Jika kita tidak teliti, mungkin kita akan bertanya seputar mata kepada dokter gigi. Bisa sesat jadinya.

Kadang, orang awam yang kurang pengetahuannya menyamakan kaum Salafi dengan teroris. Penampilan memang sama, janggut, celana gantung. Tapi mereka seperti langit dan bumi, tak akan pernah bersatu lagi. Bagaimana cara membedakannya? Mudah sekali. Jika Anda pernah melihat orang yang berkoar: “KHILAFAH! KAFIR! NEGARA KAFIR! KHILAFAH!”, kemungkinan jika bukan teroris, maka pro-teroris. Tetapi jika Anda pernah melihat orang yang berdakwah seperti ini: “Assalamu’alaykum, …..diriwayatkan dari……ditanyakan kepada…….. Syaikh……….rahimahullah…………….bid’ah…………….bla….bla…..tauhid…..bla….bla….” kemungkinan itu kaum Salafi.

Perbedaan yang menonjol adalah kaum Teroris atau dalam istilah lain disebut Al-Khawarij atau kelompok sempalan lebih mengutamakan KEKUASAAN dan KUDETA, berbeda dengan kaum Salafi yang berdakwah dengan mengutamakan AKIDAH dan KETAUHIDAN. Saya sendiri dalam hal ini lebih mendukung kepada pergerakkan kaum Salafi. Karena apa? Karena mazhab mereka lebih dekat kepada mazhab para nabi dan rasul, yaitu TAUHID dan SUNNAH. Berbeda dengan kelompok sempalan yang sangat senang terjun ke dunia politik dan memperebutkan tahta kekuasaan dengan ledakan-ledakan bom dan bersembunyi dibalik tameng ‘JIHAD’. Ini bukanlah ajaran para nabi.

Kita ambil contoh Nabi Ibrahim ‘alayhis salam. Apakah beliau memberontak kepada Raja Namrud? Apakah beliau membentuk suatu organisasi semacam Ikhwanul Muslimin, Al-Qaeda, Jama’ah Islamiyah, LDII, dan sebagainya untuk menjatuhkan kepemiminan Raja Namrud yang kafir? Tentu tidak. Terus mengapa Ibrahim ‘alayhis salam menghancurkan berhala-berhala yang disembah Raja Namrud dan pengikutnya? Bukankah itu sama dengan perilaku orang zaman sekarang yang suka membakar gereja? Tentu tidak sama. Yang dilakukan beliau menghancurkan berhala adalah untuk membuat kaum kafir itu berfikir. Setelah menghancurkan patung-patung itu, beliau menyisakan patung yang terbesar dan mengalungkan kapak atau palunya ke patung terbesar itu, supaya kaum kafir itu berfikir, kok bisa patung menghancurkan sesama patung? Jeruk minum jeruk? Bukankah yang dilakukan Sang Khalilullah itu penuh hikmah? Beliau pun juga bukan orang yang pengecut, setelah melakukan itu, beliau dengan berani mengahadap Raja Namrud, berargumen dengannya, dan akhirnya menerima hukuman darinya. Coba perhatikan yang dilakukan orang zaman sekarang. Gereja dihancurkan dan dibom. Pelakunya bersembunyi. Terus apa? Pada akhirnya Islam disebut ‘teroris’.

Kita lihat lagi dengan mengklik tombol ‘epoch’, kita akan maju ke zaman Nabi Musa ‘alayhis salam. Pemimpin pada waktu itu adalah seorang kafir yang bergelar Pharoh atau Fir’aun. Apakah Nabi Musa menuntut Fir’aun turun dari tampuk kepemimpinannya karena dia kafir? Apakah Nabi Musa membentuk sebuah perkumpulan Ikhwanul Muslimin bersama umat Bani Isra’ilnya? Bahkan Nabi Musa diperintahkan Allah untuk berdakwah kepada Fir’aun dengan penuh hikmah dan kata-kata yang baik.

Klik lagi tombol ‘epoch’. Kita maju ke zaman Nabi Isa ‘alayhis salam. Di mana negaranya pada saat itu dipimpin oleh seorang kafir bernama Pontias Pillates, seorang panglima Romawi yang menjajah Yerusalem. Apakah Nabi ‘Isa membuat perkumpulan sejenis Jama’ah Islamiyah untuk mengambil alih kekuasaan kekaisaran Romawi di Yerusalem? Tentu tidak. Beliau hanya membentuk suatu majelis pengajian yang hanya terdiri dari dua belas orang. Apa nama pengajian itu? Allah sendiri yang memberi nama, yaitu Al-Hawariy. Apa yang dilakukan kelompok pengajian pimpinan Nabi ‘Isa itu? Apakah para santrinya diajarkan membuat bom? Latihan militer? Lagi-lagi yang diajarkan adalah tentang TAUHID. Beliau berkata kepada para santrinya: “Hukum yang utama ialah: dengarlah, hai orang Israel! Tuhan, Allah kita. Tuhan itu Esa!”

Nabi ‘Isa telah tiada, zaman terlampaui dengan cepat. Lahirlah Al-Khataman Nabiyin, Muhammad sholallahu ‘alayhi wa salam di kota Makkah. Lagi-lagi pemimpinnya seorang bangsawan Quraisy yang kafir. Apakah setelah dewasa Nabi Muhammad sholallahu ‘alayhi wa salam membentuk jaringan Al-Qaeda untuk meneror warga kafir Mekah dan menurunkan tahta pemimpin yang kafir waktu itu? Ternyata beliau orang yang tidak suka kekerasan. Bahkan tidak tega mengganggu kucing yang sedang tidur sekali pun. Tapi kenapa pada akhirnya beliau melakukan penaklukan di kota Mekah? Jawabannya simple sekali. Pertama, itu adalah penggenapan mimpi beliau, bahwa ia akan memasuki Ka’bah dan menghancurkan semua berhala di dalamnya. Yang kedua, pada waktu itu penduduk Mekah sudah tidak memiliki daya dan upaya untuk memerangi kaum Muslimin. Yang ketiga, tak ada satu pun benda hidup yang dianiaya ketika penaklukan kota Mekah. Masyarakat Mekah masuk Islam atas dasar kerelaan mereka tanpa paksaan. Tak ada rumah yang didobrak, tak ada harta yang dijarah, tak ada wanita yang diperkosa. Semua tombak dan pedang tertuju ke dalam Ka’bah, menghancurkan 360 patung di dalamnya.

Apa yang dilakukan oleh kelompok sempalan berbeda sekali dengan jihad yang dilakukan para nabi. Manakah perilaku nabi-nabi di atas yang mengajarkan menghancurkan masjid? Manakah perilaku nabi-nabi di atas yang dapat dijadikan dalil untuk menghalalkan bom bunuh diri dan membunuh sesama Muslim? Mazhab para nabi adalah mazhab TAUHID, inilah yang juga dipegang oleh para Salaf. Untuk apa berkoar mendirikan negara Khilafah kalau TAUHID dan AKIDAHnya kacau?

4 responses to this post.

  1. alhamdulillah jelas sekali perbedaan salafi dengan Ikhwanul Muslimin, Al-Qaeda, Jama’ah Islamiyah, LDII,,,,,jazakallahukhairan

    Balas

  2. Posted by Cah kebumian on 27 Juli 2012 at 4:43 pm

    Trus apa yg harus dilakukan umat Islam untuk menghadapi kaum khawarij? Apakah dg kekerasan, karena percuma menghadapi mereka dg kelembutan, bisa2 kita udah mati duluan di bom sama mereka. Apakah hukumnya membunuh kaum khawarij?

    Balas

  3. Hal itu kita serahkan kepada pemerintah… Karena pemerintah memiliki kekuasaan negeri, maka mereka yagn berhak menangani hal ini. Tugas kita adalah menjaga orang-orang di sekitar kita agar tidak terjerumus ke dalam paham sesat Khawarij

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: