Melawan Takdir

Pertanyaan       : Bisakah kita melawan takdir?

Pembahasan     :

Termasuk di antara aqidah salaf adalah bahwasanya kebaikan dan kejahatan adalah dengan keputusan (Qodlo’) Allah dan ketentuan-Nya (Qodar), namun Dia tidaklah memerintahkan keburukan. Sebagaimana perkataan sebagian salaf: Seluruhnya adalah dengan perintah Allah, karena Allah Ta’ala memerintahkan kebaikan dan melarang dari keburukan, Dia tidak memerintahkan kepada kekejian namun ia melarangnya. Dan manusia tidaklah dipaksa, ia mampu memilih perbuatan dan keyakinannya, dan ia berhak atas siksaan dan pahala sesuai dengan ikhtiarnya, ia dapat memilih perintah dan larangan. Allah Ta’ala berfirman:

Barangsiapa berkehendak beriman maka hendaklah ia beriman dan             barangsiapa berkehendak kafir biarlah ia kafir. (QS. Al-Kahfi :29)

Adapun setelah berikhtiar, di antara adab yang baik dalam bermuamalah dengan Allah Subhanahu wata’ala adalah menerima takdir baik dan buruk-Nya dengan penuh keridho’an dan kesabaran. Kita semua mengetahui bahwa takdir Allah Subhanahu wata’ala yang telah Ia tetapkan bagi makhluk-Nya tidak semuanya sesuai dengan keinginan hamba-Nya. Maksudnya, bahwa di antara takdir tersebut ada yang sejalan dengan kemauan manusia, akan tettapi ada juga di antaranya yang tidak sejalan dengan kemauannya. Penyakit contohnya, ini tentu tidak sesuai dengan sifat manusia, karena semua orang pasti ingin menjadi orang yang sehat dan selamat. Begitu pula kekurangan harta, inipun tidak sesuai dengan sifatnya. Karena setiap manusia pasti ingin menjadi orang yang kaya. Kebodohan juga tidak sesuai dengan sifat manusia, karena ia pasti ingin menjadi orang yang pandai. Akan tetapi takdir Allah Subhnahu wata’ala sangat beranekaragam karena hikmah yang hanya diketahui oleh-Nya saja.

Maka, berakhlak baiklah terhadap Allah Subhanahu wata’ala akan takdir-Nya. Maksudnya ialah, hendaknya Anda rela terhadap apa yang telah Allah Subhanahu wata’ala tetapkan bagi diri Anda, dan hendaknya Anda juga merasa tenang dengannya. Anda pun harus mengetahui bahwa Allah Subhanahu wata’ala tidak akan menetapkan takdir tersebut melainkan di baliknya terdapat hikmah yang agung dan tujuan yang terpuji, yang mana dengan hikmah tersebut Allah Subhanahu wata’ala berhak memperoleh pujian dan ucapan rasa syukur.

Atas dasar semua ini, sesungguhnya berperilaku sopan terhadap Allah Subhanahu wata’ala akan takdir-Nya: hendaknya seseorang rela, tunduk dan merasa tenang. Untuk itu Allah memuji orang-orang yang sabar:

Dan berilah berita gembira bagi orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-     orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi           wa innaa ilaihi rooji’uun. (QS. Al-Baqarah : 156)

Kesimpulan     :

Tidaklah patut kita melawan takdir. Apa yang Allah berikan kepada kita, itulah yang terbaik untuk kita. Bisa jadi kita tidak meyukai sesuatu padahal itu baik untuk kita, dan bisa jadi kita menyukai sesuatu padahal itu tidak baik buat kita. Adapun tugas manusia ialah berusaha sebaik  mungkin agar mencapai ridho Allah Subhanahu wata’ala agar apa yang kita usahakan dalam hidup ini memiliki hasil yang bermanfaat di dunia dan akhirat.

Wallahu ta’ala ‘alam. (Allah Yang Maha Tinggi Yang Maha Tahu)

Semoga bermanfaat.

Sumber:

Syaikh ‘Abdul Qadir al-Arna’uth, Al-Wajiz Manhajis Salaf (Studi Ringkas Tentang Manhaj Salaf). Versi Ebook terjemahan. 2007.

Imam Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Akhlaqul Karimah (Budi Pekerti yang Mulia). Versi Ebook terjemahan. 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: