Gak Perlu Pacaran….!!

Jika saya mencintai seorang akhwat, saya akan menikahinya, jika tidak mampu, cukuplah bagi saya menjadi penggemar rahasianya.

MENGAPA SAYA MENOLAK UNTUK PACARAN…??? (Bahasa gaulnya: “Nembak”)

Sebelum Anda membaca ini, harap siapkan hati yang terbuka dan sikap yang tenang. Catatan ini tidak bermaksud untuk memojokkan suatu golongan. Tetapi saya merasa memiliki kewajiban untuk menyebarkan risalah ini. Walau catatan ini adalah asli hasil karya saya sendiri (dan saya tidak tau, apakah saya sendiri sudah mengamalkan ilmu yang sudah saya dapat atau belum), namun saya yakin tak akan bertentangan dengan syari’at Islam dan ilmunya para ulama yang faqih, justru saya mengambil ilmu ini dari mereka –rahimahumullah-. Menyampaikan kebenaran hukumnya adalah wajib walaupun di hadapan penguasa yang dzalim sekalipun dan kita terbunuh karena itu. Kebenaran memang pahit, sakit, dan sulit, tetapi saya melakukan ini agar dosa saya tidak bertambah karena menyembunyikan ilmu. Dosa saya sendiri sudah banyak, dan saya gak mau nambah-nambah lagi. Maka kewajiban saya hanyalah menyampaikan.

Amma ba’du (Adapun setelah itu)…

Wahai kaum pemuda! Barang siapa di antara kamu sekalian yang sudah mampu memberi nafkah, maka hendaklah ia menikah, karena sesungguhnya menikah itu lebih dapat menahan pandangan mata dan melindungi kemaluan (alat kelamin). Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penawar bagi nafsu.” (Shahih Muslim No.2485)

Simak hadits di atas, apakah ada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam mengisyaratkan untuk melakukan pacaran? Tentu tidak. Beliau menyarankan agar kita menikahi wanita yang menarik bagi kita, jika kita tidak memiliki kemampuan, maka kita dianjurkan berpuasa.

Gimana kita bisa berpuasa sedang kita melakukan aktivitas pacaran (baca: ber-khalwat [berdua-duaan])? Tentu puasa kita sia-sia, hanya mendapat lapar dan haus, sedangkan nafsu syahwat masih berkeliaran. Satu-satunya cara untuk mengekang nafsu syahwat dikala berpuasa yaitu dengan meninggalkan aktivitas pacaran itu.

Selain itu, mustahil bagi kita dapat menahan pandangan dikala kita selalu berduaan dengan sang kekasih. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala dalam Kitab-Nya telah memerintahkan kita untuk menahan pandangan:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka…” (QS. An Nur: 30-31)

Gimana bisa kita menahan pandangan disaat sedang berkhalwat [berdua-duaan]? Maka, satu-satunya cara untuk meminimalisir hal itu adalah dengan meninggalkan pacaran. (Mengapa saya katakan ‘meminimalisir’? Karena saya sendiri tidak bisa meninggalkan sama sekali ‘menahan pandangan’, kecuali kalo saya tinggal di Arab Saudi yang rata-rata wanitanya pake cadar).

Pacaran bukan aktivitas seorang Muslim yang baik, apapun bentuknya, apapun alasannya, apapun sebutannya, siapapun pelakunya (walau dia aktivis dakwah berjanggut tebal, dahi hitam, dan celananya cingkrang). Karena hal itu merupakan kegiatan Ahlul Hawa Nafsu (pengikut hawa nafsu) dan kaum Mu’tazilah (pemuja akal) [pinjem istilahnya bapak-bapak ulama].

Jika kamu memang mengaku seorang Muslim, jika kamu memang mengaku umat Rasulullah, dan mencintai Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam serta mengimani beliau, maka simaklah hadits ini:

Dari Abu Muhammad Abdullah bin Amr bin Ash rodhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah bersabda, “Tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga HAWA NAFSUNYA MENGIKUTI AJARAN YANG AKU BAWA.” (Hadits shahih, dihasankan oleh Imam Nawawi, diriwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih)

maka, buatlah keputusan… make a decision!… bagi kalian yang saat ini sedang menjalin hubungan dengan kekasih. “Mau dibawa kemana hubungan kita?” Mau segera menikah? Atau menghentikan dulu komunikasi kalian untuk sementara waktu hingga waktunya tiba? Atau kalian mau terus-terusan berada dalam hubungan illegal yang dapat menyebabkan turunnya murka Allah atas kalian?

Terus, bagaimana bro kalo kita lagi suka ama si do’i?

Jika kita memang ‘falling in love’ dengan ‘SI DIA’, cukuplah bagi kita untuk mendoakan kebaikan baginya, senang ketika dia senang, dan sedih ketika dia sedih (jangan dipake buat cari kesempatan peluk-pelukkan, HARAM! Cukup dari jauh saja), dan cukup jadi penggemar rahasia (secret fans, bener gak?).

Tapi….tapi…tapi… ntar dia ditembak orang lain, gimana?

Ditembak? Emang babi hutan?

Gak usahlah terlalu dipikirkan… Kalo antum yakin Allah itu ada, kalo antum yakin Allah itu memiliki sifat Maha Berkehendak, serahkan semua kepada-Nya. Jodoh itu ada di tangan Allah. Simak, apa kata Allah:

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)….” (QS. An-Nuur: 26)

Jadi, bahasa simplenya: Kalo kamu cewe yang baik, pasti kamu dapat cowo yang baik juga, dan sebaliknya, kalo kamu cowo yang baik, pasti kamu bakal dapat cewe yang baik. GAK PERLU DICARI! Allah yang bakalan ngasih. Tuh kan, kurang apa coba? Apa masih perlu pacaran?

Kalau sudah waktunya tiba, nah, siapkan waktu untuk bertemu nyokap-bokapnya si doi dan atur jadwal mainnya. Tapinya juga jangan lama-lama. Wah sok tau banget saya, padahal belum nikah juga… Lebih lengkapnya tanya aja ama temen-temen ane yang dah nikah duluan, gimana dari proses khitbah ampe ke situnye (situ apaan?). Ya pokoknya begitulah…

Tapi kalo saya gak nembak dia, saya dibilang pengecut, cemen, homo, gak normal, gak gaol, bla….bla…bla……

Siapa yang bilang, temenmu? Emank siapa mereka? Apalagi sampai ada yang memberimu alasan untuk sekedar ta’aruf.

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [QS. Al-An’am: 116]

Ikuti saja peribahasa: “Anjing menggonggong, kafilah berlalu.”

Akhir kata, saya ingin melampirkan hadits ini untuk menjadi bahan renungan buat semua, termasuk saya:

Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhasrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisir atau diwujudkan) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR. Bukhari)

Semoga Allah selalu menunjukkan kita jalan yang lurus dan dimudahkan untuk selalu beramal dengan amalan penghuni surga.

-Semoga bermanfaat-

4 responses to this post.

  1. Posted by ahmad eka bayu on 5 September 2011 at 6:42 am

    subhanallah, semoga semakin banyak para pemuda yang produktif memuat tulisan yang sarat manfaat dan kebenaran.

    Balas

  2. Posted by Admin Blog Paviliyun Keluarga on 5 September 2011 at 4:29 pm

    Good

    Balas

  3. Posted by RND on 26 Agustus 2014 at 4:05 am

    GREAT!

    Balas

  4. Posted by dally cobain on 27 September 2015 at 8:35 pm

    Saya setuju sama ente…that right ..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: