Antara Sebelas Raka’at dan 23 Raka’at

Malam itu malam ketiga bulan Ramadhan. Di sekitar tempat tinggal saya ada tujuh buah masjid, dan di setiap malam bulan Ramadhan saya ingin melaksanakan sholat tarawih secara bergiliran di enam masjid tersebut (karena yang satunya lagi masjid milik LDII yang difatwakan sesat oleh MUI) untuk mencari suasana berbeda dan bisa bertemu lebih banyak orang. Siapa tahu bisa bertemu dengan teman lama. Setelah dua malam saya lewati dengan sholat tarawih di dua masjid yang berbeda dengan masing-masing sebelas raka’at, tiba waktunya di malam yang ketiga untuk sholat di masjid yang ketiga. Jarak masjid yang ketiga ini lebih jauh daripada dua masjid sebelumnya, tetapi masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki selama sekitar sepuluh menit. Usai sholat ‘Isya di masjid tersebut, sang ustadz memberikan kultum tentang keutamaan bulan Ramadhan. Cukup menarik dan menambah wawasan. Setelah itu sholat tarawih pun didirikan. Sesampainya diraka’at kedelapan, sebagian jama’ah pulang. Masjid yang tadinya dipenuhi manusia, kini tinggal terisi sebagiannya saja. Jika bukan karena hadits yang bunyinya seperti ini: “Orang yang shalat tarawih mengikuti imam sampai selesai, ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. At-Tirmidzi, no. 734, Ibnu Majah, no.1317, Ahmad, no.20450)” tentulah saya juga sudah meninggalkan masjid. Begitu pula yang disarankan oleh Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah yang saya kutip dari situs muslim.or.id: “Maka yang paling afdhal bagi seorang ma’mum adalah mengikuti imam sampai imam selesai. Baik ia shalat 11 raka’at maupun 23 raka’at, atau jumlah raka’at yang lain. Inilah yang paling baik.”

Terlanjur basah, sekalian menyelam. Begitulah peribahasa yang saya anut. Dengan setia saya mengikuti imam walau mata sudah panas dan kaki terasa tepar. Sholat tarawih 23 raka’at pun usai pada pukul 21.45, dengan bacaan surah yang panjang (tebakan saya sang imam membaca surah Ali Imran dari raka’at pertama hingga raka’at ke-20). Usai sholat, saya mampir sebentar ke warung sate di samping masjid untuk membeli sebungkus sate untuk sahur.

“Satenya satu dibungkus, Paklek. Bumbunya dipisah ya,” ujarku.

“Sepuluh tusuk?” tanya penjual sate tersebut.

“Ya,” jawabku.

Saya pun duduk menunggu di samping seseorang jama’ah yang juga sedang membeli sate. Mereka bertiga –pembeli sate, penjual sate, dan isteri penjual sate– sedang berbincang-bincang, saya pun ikut nimbrung bersama mereka.

Seorang jama’ah yang membeli sate tersebut berkata, “Kita ini sudah capek, kerja, anak juga mau tidur, tarawihnya kok 23 raka’at. Mau cari yang sebelas raka’at tapi ya kebanyakan semua 23 raka’at. Kalo ada lagi yang kurang dari sebelas raka’at ya saya cari itu. Mending sholat di rumah aja jadinya.”

Isteri sang penjual sate menanggapi, “Loh kok di rumah.”

Saya nyeletuk, “Di masjid MAN itu sebelas raka’at, sama masjid di GOR itu.”

Orang tersebut bertanya kembali minta diulangi, “Dimana, dek?”

“Di situ, masjid yang di MAN, sama yang di GOR,” ulangku. “Oh iya?” jawabnya.

Kemudian dia melanjutkan, “Kita bukannya apa ya. Tapi kan harusnya imamnya paham sama kondisi kita kan, ada yang kerja segala macam. Bukannya nabi kan juga begitu ya, dek, gak maksa orang banyak keadaannya, ada yang capek, disuruh sholat lama-lama. Gimana umat Islam gak pecah belah kayak gini.”

Kemudian saya berkata, “Iya kalo di rumah kan bisa berjama’ah sama keluarga, ya.” “Kayak Muhammadiyah itu aja gampang, sholat tarawih sebelas raka’at, gak ada tahlilan,” ujar isteri si penjual sate. Tak lama kemudian, sateku pun jadi. “Berapa bule?” tanyaku. “sepuluh, mas,” jawabnya.

SEBELAS ATAU 23 RAKA’AT?

Mengenai jumlah raka’at tarawih yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wa sallam ada benarnya juga dengan yang dimasudkan oleh pembeli sate di atas, yaitu tidak pernah lebih dari sebelas raka’at, berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika Abu Salamah bertanya kepada beliau: “Pada bulan Ramadhan, beliau tidak pernah melebihkan dari sebelas raka’at. (Begitu) juga pada bulan lainnya. (Dalam hadits riwayat Muslim) Beliau sholallahu ‘alayhi wa salam shalat delapan raka’at, lalu melakukan witir.”

Juga hadits dari Ibnu Abbas: “Lalu beliau sholallau ‘alayhi wa salam shalat dua raka’at, kemudian dua raka’at, kemudian dua raka’at, kemudian dua raka’at, kemudian dua raka’at, kemudian dua raka’at, kemudian witir.” [HR. Muslim 2/179]. Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam hanya sholat tarawih sebanyak sebelas atau tiga belas raka’at. Tidak lebih dari itu.

Adapun penambahan raka’at tarawih yang melebihi itu terjadi pada era kekhalifahan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Malik dari Yazid bin Ruman: “Dahulu pada zaman Umar, orang-orang melaksanakan shalat (tarawih) 23 raka’at di bulan Ramadhan.” [Muwattha’ Syarah Az-Zarqani, 1/239].

Demikianlah telah terjadi perbedaan di kalangan umat Muslim. Di lain sisi umat Muslim wajib mengikuti sunnah Nabinya, tetapi di lain sisi, kita tidak boleh mengingkari apa yang dilakukan para sahabat sesudah Rasulullah karena mereka adalah Khalifah yang mendapat petunjuk. Tetapi bagaimanapun, umat Muslim dianugerahi oleh Allah akal untuk memikirkan mana yang lebih kuat dasarnya dan lebih baik untuk dikerjakan.

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa : 59)

Sumber terkait: http://almanhaj.or.id/content/2800/slash/0

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: