SYARI’AT DIBUAT BUKAN UNTUK USTADZ, EDISI: Bersentuhan dengan lawan jenis

Pada suatu hari di kantin kampus, saya bersama teman-teman sedang asik menikmati kehangatan semangkuk bakso dan sejuknya segelas es kelapa. Kami hanyut dalam sebuah perbincangan anak muda galau yang masih mencari jati diri. Di sana, kami berempat melepas lelah dari kepenatan akademik dan kuliah. Saya bersama tiga orang teman: dua laki-laki dan satu wanita duduk bersama membentuk jama’ah.

Setelah acara usai, kami pun beranjak untuk pergi. Dengan diduga sebelumnya, teman wanita saya mengajak untuk bersalaman. Kontan saya menolak dan hanya menggenggamkan kedua tangan di dada. Dia pun berkata, “Jadi ustadz aja udah kamu, Bay.”

Dari pengalaman saya di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwasanya masih ada kaum Muslim yang menganggap bahwa syari’at Islam itu dibuat hanya untuk mereka yang bercita-cita menjadi ustadz atau ustadzah. Jadi bagi yang bercita-cita menjadi dokter, guru, polisi, karyawan, pengusaha, presiden, babysitter, tukang salon, tukang jagal, tukang pentol, tukang obat, kuli bangunan, dan sebagainya tidak perlu menerapkan syari’at Islam. Kalau begitu anggapannya, lalu bagaimana kalau tidak ada seorang manusia pun di kalangan kaum Muslimin yang bercita-cita ingin menjadi ustadz / ustadzah? Niscaya musnahlah syari’at Islam ini karena tak ada yang mengamalkannya. Namun Alhamdulillah anggapan tersebut salah 100% karena syari’at dibuat bukan untuk ustadz ustadzah saja, bahkan syari’at juga dibuat untuk bangsa binatang. Tidak percaya? Coba bayangkan, bagaimana keadaan para hewan jika tidak ada syari’at. Manusia akan seenaknya membunuh mereka untuk dimakan. Berbagai macam cara bisa digunakan, mulai dari dibakar hidup-hidup, digiling hidup-hidup, ditenggelamkan ke dalam air, dicekik hingga berjam-jam, diestrum, ditombak sana-sini, dan beragam penyiksaan lainnya. Namun, syari’at Islam kemudian mengatur agar hewan-hewan tersebut lebih mudah dalam menghadapi kematian, yaitu dengan cara disembelih.

Syari’at Islam ternyata juga dibuat untuk bangsa Jin. Tidak percaya? Buktinya bahwa ada Jin yang menerapkan syari’at Islam. Cobalah buka Al-Qur’an surah Al-Jin, surat ke-72. Disana dikisahkan sekumpulan Jin yang masuk Islam setelah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam membaca Al-Qur’an. Kalau Jin saja masuk Islam, tentu mereka dibebani untuk menjalankan syari’at Islam, bukan hanya sekedar masuk thok.

Sekarang sudah terbukti bahwa syari’at Islam itu dibuat untuk kemaslahatan semua makhluk di jagad raya ini, dari zaman Nabi Adam ‘alayhis salam hingga manusia terakhir kelak. Islam adalah agama Rahmatan lil ‘Alamin, artinya Rahmat bagi seluruh alam, bukan Rahmatan lil Ustadz.

Sekarang kembali ke masalah jabat tangan di atas sebagai contoh dalam penerapan syari’at Islam. Jika semua manusia menerapkan hal tersebut, niscaya ada banyak maslahat yang terkandung di dalamnya. Terutama hal tersebut untuk menjaga kesucian sang wanita. Juga, untuk menjaga pria dari perbuatan nakal kepada si wanita. Hal ini telah diatur oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam sebuah hadits:

“Seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (Hadits hasan riwayat Thobroni dalam Al-Mu’jam Kabir 20/174/386 dan Rauyani dalam Musnad: 1283 lihat Ash Shohihah 1/447/226)

Jika Anda Muslim, amalkanlah hadits ini, entah Anda ustadz atau bukan ustadz.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: