Haruskah Belajar Islam Kepada yang Punya Sanad?

Ada sebagian kelompok yang mengklaim agamanya paling benar karena mereka memiliki imam yang mengaku memiliki sanad mangkul hingga Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Sehingga mereka menganggap orang yang tidak bergabung di jama’ah mereka ke-Islamannya dianggap batil atau diragukan. Sebut saja kelompok ini bernama LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia), sebagian masyarakat mengenalnya dengan Islam Jamaah, yang telah difatwakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia dan hingga sekarang fatwa sesat itu belum dihapuskan.

Bingung harus belajar Islam sama siapa?

Bingung harus belajar Islam sama siapa?

Pendirinya adalah Nur Hasan Ubaidah yang telah melakukan penipuan besar-besaran dengan mengaku telah mengambil sanad dari kota Mekkah. Tentu saja hal ini dapat meresahkan para kader dakwah kampus yang rajin menghadiri halaqoh, dan kemudian mengetahui ternyata Murobbi mereka tidak punya sanad! Jika aqidah dan iman mereka lemah, bisa jadi mereka akan keluar dari halaqoh kampus dan pindah ke Islam Jamaah yang imamnya punya sanad. Hal ini juga akan merepotkan mahasiswa yang ingin menuntut ilmu agama, karena mereka harus mencari tahu sana-sini siapa yang punya jalur sanad kepada Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, karena tidak semua orang bisa dipercaya. Bisa saja dia mengaku-ngaku sebagai keturunan Rasulullah, atau memiliki nenek moyang yang pernah belajar kepada ulama-ulama salaf terdahulu. Sungguh merepotkan!

Bicara tentang sanad, maka apa sesungguhnya sanad itu? Sanad merupakan jalur penyampaian suatu berita dari generasi ke generasi secara langsung. Contohnya Al-Qur’an. Al-Qur’an telah diriwayatkan kepada kita oleh perawi dengan sanad yang mutawatir. Demikian pula dengan hadits-hadits Nabi shallallahu’alayhi wa sallam dengan sanad-sanad yang shahih. Berbeda dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang mana kitab mereka didasarkan pada penemuan arkeologi, bukan berdasar sanad, sehingga diragukan keotentikannya.

Dari sini, mungkin para pembaca ikhwahfillah sekalian sudah paham apa itu sanad. Contoh lainnya yang sederhana yang sering terjadi di kehidupan kita adalah mungkin kita memiliki sahabat. Sahabat kita bercerita kepada kita tentang peristiwa pembantaian G30SPKI. Bagaimana sahabat kita ini bisa tahu peristiwa tersebut sementara ia tidak hidup di zaman itu? Ternyata dia mengetahuinya dari ibunya karena ibunya pernah bercerita kepadanya. Lalu, bagaimana ibunya bisa tahu cerita itu? Ternyata sang ibu diceritakan oleh kawannya. Lalu kawannya dapat cerita itu darimana? Ternyata kawannya ini diceritakan langsung oleh orang tuanya yang pernah bergabung di partai PKI, dan menyaksikan langsung pembantaian tersebut. Nah dari sini kita dapat jalur periwayatan dari mantan anggota PKI kepada anaknya, kemudian anaknya menceritakan kepada kawannya, kemudian kawannya menceritakan kepada anaknya, kemudian anaknya yang merupakan sahabat kita menceritakan kepada kita. Nah, inilah sanad-nya.

Lalu benarkah orang yang tidak punya sanad maka tidak boleh diambil imu agamanya?

Sebagian orang salah paham dengan perkataan Ibnul Mubarok rahimahullah:

“Isnad adalah bagian dari agama, kalau bukan karena isnad maka setiap orang yang berkeinginan akan mengucapkan apa yang ia kehendaki.”

Mereka memahami bahwasanya: “Perkataan Ibnul Mubarak ini menunjukkan bahwasanya orang yang tidak punya isnad bicaranya akan sembarangan, dan sebaliknya orang yang punya isnad maka bicaranya pasti lurus.”

Akan tetapi bukan demikian maksud perkataan Ibnul Mubarok ini, melainkan maksudnya ialah: Tidak sembarang orang bisa menyampaikan hadits dari Nabi shallallahu’alayhi wa sallam, akan tetapi menyampaikan hadits Nabi harus ada sanadnya. Dan jika sudah ada sanadnya maka HARUS diperiksa para perawinya sehingga bisa ketahuan haditsnya shahih ataukah lemah.

Alhamdulillah para ulama telah mengumpulkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam banyak kitab-kitab hadits, sebagaimana yang masyhur di antaranya: Muwattho’ Al-Imam Malik, Musnad Al-Imam Ahmad, Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Ibnu Hibban, dan lain-lainnya. Oleh karenanya jika seorang Murobbi sudah memiliki kapasitas yang cukup dalam hadits, misalkan dia sudah mengetahui status hadits dari penjelasan kitab-kitab yang disusun oleh ulama Ahlus Sunnah, maka apa salahnya dia menyampaikan ilmu agama kepada orang lain?

Diadaptasi dari Ketika Sang Habib Dikritik: Membuka Mata dan Hati, Meniti Jalan Kebenaran; Firanda Andirja Abidin.

One response to this post.

  1. Posted by lilik on 9 Maret 2015 at 7:29 am

    mana mas dalil maslah sanad

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: