NASEHAT UNTUK ORANG AWAM DI PARTAI ISLAM DAN NASEHAT UNTUK PETINGGINYA

Sebagai sebuah kewajiban seorang Muslim terhadap Muslim yang lain adalah saling memberi nasehat satu sama lain apabila melihat saudaranya melakukan penyimpangan dalam agama. Dalilnya sangat banyak dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Di dalam Surah Al-Ashr ayat ketiga, Allah berfirman yang artinya: “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” Dan Rasulullah pun pernah bersabda:
Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Cukuplah bagi kita dua dalil di atas sebagai perintah untuk saling mengarahkan kepada al-haq. Sekarang, apa yang harus dinasehati kepada orang yang bergabung di sebuah partai Islam, baik orang awamnya maupun asatidz atau petingginya?
Saya pribadi melihat banyak kemungkaran dalam tubuh partai yang mengatasnamakan partai dakwah. Kemungkaran itu terjadi di berbagai kalangan dalam tubuh partai tersebut, baik yang awamnya maupun petingginya.
Penyimpangan yang terjadi kepada orang awam biasanya adalah penyakit taklid dan ashobiyah, yang pada intinya adalah fanatisme golongan. Seorang ikhwan bercerita bahwa ia memiliki seorang adik yang bergabung di sebuah lembaga dakwah di kampus yang berafiliasi kepada sebuah partai Islam. Ketika ia pulang kampung dan ditanya oleh tetangga-tetangganya, “Kamu ikut aliran apa?” Maka dijawablah oleh sang adik, “Saya ikut aliran P** (sesuai nama partai tersebut)”.
Yang lebih parah adalah ketika terjadi kasus pengucapan selamat hari raya besar agama non-Islam oleh para pembesar-pembesar partai tersebut, ada seorang ikhwan yang mengikutinya dengan meng-copy paste ucapan mereka dan menjadikannya status Facebook. Ketika kami memberikan nasehat dan hujjah bahwasanya hal tersebut diharamkan dan menyelisihi mayoritas ulama, ikhwan ini menjawab dengan berkata, “Kalian semua sudah pintar, mari kita saling menghormati………”. Bagaimana ini? Apakah jika ada pezina dan kita katakan kepadanya bahwa zina haram beserta dalil-dalilnya kita terima dengan lapang jika dia menjawab, “Anda sudah pintar, mari kita saling menghormati!” Ini tidak lain adalah efek buruk apabila orang awam berpartai. Mereka merasa golongan mereka adalah yang paling benar bukan karena berdasar Al-Qur’an dan Sunnah, tapi semata-mata hawa nafsu mereka yang mendorong mereka untuk menganggap partai mereka paling benar dan semua perbuatan para petingginya harus dibenarkan.
Tidak sampai disitu, ketika salah seorang petingginya berkata, “Kami tidak akan mendirikan Negara agama, karena agama tidak perlu agama”, maka tak ada suara pun dari kelompok mereka yang mengklarifikasi ataupun yang meluruskan petinggi mereka. Sungguh penyakit ashobiyah (fanatisme golongan) telah menjangkiti tubuh mereka.
Allah berfirman yang artinya:
“Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (QS. Al-Mu’minun 23 : 53)
Tidak hanya orang awam, para petingginya juga terkena penyakit. Penyakit yang menjangkiti juga tidak jauh berbeda dengan penyakit yang menjangkiti kader awamnya, yaitu taklid dan ashobiyah. Mereka yang mengucapkan selamat natal mencari-cari fatwa ulama yang membolehkan selamat natal, walaupun pendalilannya sangat lemah dan menyelisihi jumhur ulama. Kemudian mereka berharap agar perilaku mereka dibenarkan dan diikuti oleh kader-kader awam mereka.
Jika mereka benar berdakwah, seharusnya tidak hanya menarik simpati dari orang luar, tetapi hendaknya mereka berdakwah terhadap diri sendiri, yaitu dengan menerapkan syari’at terhadap diri. Kemudian berdakwah terhadap sesama kader yaitu dengan mengajak mereka untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, bukannya mengajak mereka untuk mengikuti fatwa ulama yang tidak berdasar atau yang mereka menafsirkan fatwa ulama tersebut dengan keingingan mereka.
Padahal ulama sekaliber Imam Asy-Syafi’ie saja melarang pengikutnya untuk mengikuti setiap pendapat beliau dengan berkata, “Setiap apa yang aku katakan, sedangkan riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam menyelisihi pendapatku, maka hadits Nabi adalah lebih utama, janganlah kalian bertaqlid kepadaku.” (Diriwayatkan oleh Abi Hatim (hal.93), Abu Nu’aim (15/9/2)).
Begitu juga Imam Abu Hanifah, beliau berkata, “HARAM bagi seseorang yang tidak mengetahui dalilku, untuk berfatwa dengan pendapatku.” (Dinukil dari Kitab Shifat Sholat Nabi, Syaikh Al-Albani).
Wahai para petinggi partai Islam! Janganlah Anda mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil. Janganlah ajari kader awam kalian untuk taqlid terhadap kalian. Apabila sewaktu-waktu kalian bertindak melanggar syari’at, jangan malu untuk menjelaskan kepada umat tentang kesalahan kalian, bukan justru mencari dalil pembenarannya dan memaksakannya agar benar di mata kalian. Katakanlah yang tauhid adalah tauhid, yang syirik adalah syirik. Yang sunnah adalah sunnah, dan yang bid’ah adalah bid’ah! Jangan takut untuk kembali kepada syari’at yang benar. Apabila kalian memang berpolitik, berpolitiklah yang benar dan sesuai syari’at. Jangan sampai berpolitik untuk menarik dukungan masa membuat kalian jauh dari sunnah. Yakinlah bahwa Allah senantiasa menolong hamba-Nya apabila sang hamba tetap berada dalam koridor syari’at. Namun selama ini kalian telah mengabaikan janji Allah dengan menganggap bahwa syari’at Islam hanya bisa ditolong dengan menabrak syari’at Islam yang lain (seperti mengadakan perayaan bid’ah, membela kaum Kafir Syi’ah Sampang, dan kerja sama dengan orang kafir dalam kepemimpinan). Bagaimana bisa ingin menegakkan syari’at dengan menghilangkan syari’at?
Wahai kader dakwah yang berafiliasi dalam partai Islam! Tetaplah berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Jangan segan dan takut untuk menasehati pemimpin kalian apabila mereka melanggar syari’at. Dan janganlah kalian menganggap bahwa tegaknya Islam hanya bisa ditolong dengan menangnya partai kalian di Pemilu nanti! Tidakkah Allah berfirman: “Wa ‘asa antakrohu syai’a wahuwa khoirul lakum, wa ‘asa antuhibbu syai’a wahuwa khoirul lakum. Wallahu ya’lamu wa antum la ta’lamun! Dan bisa jadi engkau membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan bisa jadi engkau mencintai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sementara engkau tiada mengetahui!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: