Ibadah Gak Ikhlas, Tapi dapat Pahala bahkan Ampunan! Kok Bisa?

tholabul ilmiSebagaimana yang sudah kita tahu dan sering dengar di dalam pengajian-pengajian maupun di kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa syarat pokok agar suatu amal ibadah diterima itu ada dua, yaitu: Ikhlas, artinya amalan tersebut dikerjakan dengan semata-mata mengharapkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala, dan yang kedua adalah ittiba’, yaitu amalan tersebut harus berdasarkan tuntunan dari Al-Qur’an, As-Sunnah Ash-Shohihah, dan ijma’ (kesepakatan) kaum Muslimin sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan Shahabat radhiyallahu ‘anhuma. Kaedah ini telah masyhur sehingga tidak perlu bagi saya untuk menyebutkan lagi sumbernya. Adapun dalil-dalil yang mendasari kaedah ini juga telah masyhur. Yaitu hadits Rasululullah: “Innamal a’malu bin Niat” (segala sesuatu tergantung niatnya), dan juga hadits Rasulullah: “Man ahdatsa fi amrina haadza ma laysa minhu fahuwa roddun” (barangsiapa mengada-adakan urusan yang bukan berasal dari kami maka tertolak). Oleh karenanya, apabila satu dari dua persyaratan tersebut tidak terpenuhi, maka amalan tersebut tidaklah diterima atau minimal hanya mendapat pahala sedikit sekali, bahkan bisa jadi justru mendapat dosa. Misalnya, kita mengerjakan ibadah puasa, tetapi niatnya bukan karena beribadah kepada Allah melainkan barangkali hanya untuk alasan kesehatan, maka puasanya tidak mendapatkan pahala. Atau dia berpuasa untuk mendapatkan ilmu kebal, maka yang seperti ini justru mendapat dosa karena dikhawatirkan dia terjatuh ke dalam kesyirikan dan bid’ah. Contoh yang lain, seseorang melaksanakan shalat subuh empat raka’at, walaupun niatnya baik untuk beribadah tetapi jelas tidak diterima karena menyalahi Sunnah Rasulullah dan ijma’ kaum Muslimin. Contoh yang lainnya, seseorang berniat mendoakan kerabatnya yang telah meninggal. Tetapi caranya salah, yaitu dengan mengumpulkan orang-orang di hari ketiga, ketujuh, ke-40, dst. Padahal yang demikian tidak pernah dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam maupun para Shahabatnya radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Tapi dari sekian ibadah yang mewajibkan pengamalnya memenuhi dua syarat pokok di atas, ternyata ada satu ibadah yang walau tidak diniatkan dengan ikhlas tetap dapat pahala, bahkan mendapat ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Al-Ustadz Abdullah Hadrami, Lc. hafidzohullah merupakan murid dari Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah. Beliau, ketika mengisi ceramah di Masjid al-Intsar Samarinda pada hari Kamis, 8 Rajab 1435 H, bercerita ketika suatu kali beliau sedang bermajelis dengan Syaikh al-Utsaimin. Al-Ustadz dan rekan-rekan beliau yang lain ditanya oleh Syaikh al-Utsaimin, “Ibadah apa yang dikerjakan walaupun tidak ikhlas tetapi tetap mendapat pahala?” Maka orang-orang dalam majelis pun bingung. Akhirnya sang Syaikh menjawab, “Tholibul ‘ilmi (menuntut ilmu)”.

Kemudian dibawakan sebuah hadits:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah yang Mahasuci dan Mahatinggi mempunyai beberapa malaikat yang berkeliling mencari majelis dzikir. Apabila mereka telah menemukan majelis dzikir tersebut, mereka pun duduk disana dengan membentangkan sayap mereka, hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit paling bawah, dan jika majelis dzikir itu telah selesai, mereka pun naik ke langit.”

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam meneruskan sabdanya, “Kemudian Allah Azza wa Jalla bertanya kepada mereka. Dan Dia lebih tahu daripada mereka. “Kalian datang dari mana?” Mereka (para malaikat) berkata: “Kami datang dari sisi hamba–hamba-Mu dibumi yang selalu bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid dan meminta kepada Mu.” Lalu Allah Subhanahu wa ta’ala bertanya: “Apa yang mereka minta?” Para Malaikat menjawab: “Mereka memohon surga-Mu?” Allah Subhanahu wa ta’ala bertanya lagi: “Apakah mereka pernah melihat Surga-Ku?” Para Malaikat menjawab: “Belum, mereka belum pernah melihatnya.” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Bagaimana seandainya mereka melihat surga-Ku” Para malaikat berkata lagi: “Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu.” Allah Subhanahu wa ta’ala bertanya: “Dari apa mereka meminta perlindungan kepada-Ku?” Para Malaikat menjawab: “(Mereka meminta perlindungan) dari Neraka-Mu ya Rabb.” Allah Subhanahu wa ta’ala bertanya lagi: “Apakah mereka pernah melihat neraka Ku?” Para Malaikat menjawab: “Belum pernah” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Bagaimana seandainya mereka melihat neraka-Ku.” Para Malaikat pun berkata: “Mereka juga memohon ampun kepada Mu?” Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Ketahuilah hai para Malaikat-Ku, Sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta dan melindungi mereka dari neraka.” Para Malaikat berkata: “Ya Rabb, didalam majelis itu ada seorang hamba yang banyak berbuat dosa dan kebetulan hanya lewat lalu duduk bersama mereka.” Allah Subhanahu wa ta’ala pun berfirman: “Sesungguhnya Aku telah mengampuni orang tersebut. Sesungguhnya mereka itu adalah suatu kaum yang teman duduknya tidak akan celaka karena mereka.” [Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dalam shahih nya, hadits no 6839 : 2689]

Hadits di atas memang bicara tentang majelis dzikir. Tetapi para ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa majelis dzikir tidak hanya kumpulan orang-orang yang berdzikir dengan membaca wirid-wirid secara beramai-ramai, tetapi bisa juga diartikan sebagai majelis ilmu agama. Dari sini kita bisa mengambil faedah bahwa menuntut ilmu agama termasuk perkara ibadah yang sangat besar faedahnya. Namun sayang, ibadah yang satu ini banyak dilupakan dan dianggap remeh oleh sebagian kaum Muslimin. Mereka lebih suka menyibukkan diri mereka dalam perkara duniawi. Mereka lebih mudah menyisihkan waktu, uang , dan tenaga untuk menuntut ilmu dunia. Padahal ilmu dunia manfaatnya hanya sekedar di dunia dan itupun tak semuanya bermanfaat. Tetapi ilmu agama sangat bermanfaat selagi kita hidup di dunia dan bermanfaat pula di akhirat.

Namun tentunya, kita juga harus waspada terhadap majelis-majelis pengajian yang sekarang banyak diadakan. Kita harus bisa memilih mana majelis pengajian yang benar-benar sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salafush Sholih.

Demikian, semoga bermanfaat agar kita bisa istiqomah dalam menuntut ilmu agama Islam yang mulia ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: