INILAH PRODUK-PRODUK YAHUDI YANG HARUS ANDA JAUHI

Banyak kaum Muslimin khususnya di Indonesia yang tidak menyadari bahwa mereka banyak mengkonsumsi produk dari Zionis Yahudi. Padahal produk-produk tersebut amat sangat berbahaya bagi mereka di dunia dan di akhirat. Berikut ini adalah produk-produk buatan Yahudi yang harus Anda jauhi:

 

  1. Membangun Bangunan di Atas Kuburan

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menjelang wafatnya:

“Allah melaknat orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan-kuburan nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Subhanallah, betapa banyak kaum Muslimin mengkonsumsi produk Yahudi ini. Jika kita berziarah ke makam-makam kaum Muslimin, hampir semua kita dapati kuburan mereka berbentuk seperti candi. Kuburan tersebut diberi marmer, dicat, dan dihiasi dengan segala macam ukiran maupun kaligrafi. Kemudian beberapa kuburan yang dianggap sebagai kuburan wali dikeramatkan. Mereka beribadah disana, bertawasul kepada penghuni kuburan, dan membaca Al-Qur’an. Padahal kuburan bukan tempat ibadah.

 

  1. Menjadikan Kyiai, Ustadz, Habib, Wali, dsb sebagai Pembuat Syari’at di samping Allah

Allah berfirman, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah yang Esa, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah : 31)

Diriwayatkan ketika Adiy bin Hatim radhiyallahu ‘anhu (yakni sahabat Rasulullah shallalahu ‘alayhi wa sallam yang merupakan mantan Ahli Kitab) mendengar ayat ini, ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tidak menyembah mereka.” Maka Rasulullah berkata kepadanya:

“Bukankah mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan, kemudian kalian menghalalkannya. Dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan, kemudian kalian mengharamkannya?” Ia menjawab, “Ya, benar.” Maka beliau bersabda, “Itulah bentuk ibadah kepada mereka.” (HR. At-Tirmidzi)

La hawla wala quwwata illa billah. Di zaman ini tidak bisa terhitung berapa kaum Muslimin yang sudah terlanjur mengkonsumsi produk Yahudi ini, yaitu taklid (tunduk membabi buta) kepada Kyiai, Ustadz, Habib, Ajengan, Tuan Guru, Murobbi, Pimpinan Partai, dan yang semisalnya. Sebagai orang awam kita memang dianjurkan untuk bertanya kepada yang ahli agama apabila kita tidak mengetahui suatu perkara dari agama ini. Tetapi kita diwajibkan untuk mencari tahu dalil, bukan hanya ikut apa kata ustadz. Apabila mereka tidak punya dalil, atau dalil mereka lemah, atau dalil mereka kuat tetapi pemahaman mereka salah, maka pendapat mereka kita tinggalkan dan kita cari pendapat yang lebih kuat.

Imam Abu Hanifah rahimahullah pernah berkata, “Tidak halal bagi seorang pun mengambil pendapat kami, selama ia tidak mengetahui dari mana (dengan dasar apa) kami mengambil pendapat tersebut.”

Imam Syafi’I rahimahullah juga pernah berkata, “Apabila kalian menjumpai dalam kitabku hal yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, maka berpendapatlah kalian dengan sunnah Rasulullah, dan tinggalkan apa yang aku katakan.” (Dinukil dari Muqoddimah Kitab Shifatush Sholatin Nabiy, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani)

 

  1. Mengajak Orang Lain kepada Kebaikan tapi Dia Sendiri Tidak Melakukannya

Ini adalah salah satu produk Yahudi. Mereka memiliki ilmu untuk diajarkan kepada orang lain, tapi mereka sendiri tidak melakukannya.

Sebagai contoh ada sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Al-Jana’iz no.1268 dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Ada seorang pemuda yahudi yang biasa melayani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kemudian dia sakit. Maka nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam datang menjenguknya. Beliau duduk di samping kepala pemuda yahudi itu. Nabi berkata kepadanya, ‘Masuk Islamlah!’ lalu pemuda itu melihat ayahnya yang saat itu ada di sampingnya. Ayahnya berkata, ‘Turutilah Abul Qasim Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.’ Maka pemuda itupun masuk Islam. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar dari rumahnya sambil berkata, ‘Segala puji bagi Allah Azza wa Jalla yang telah menyelamatkannya dari api Neraka’.”

Cerita di atas menggambarkan bagaimana sang ayah dari pemuda Yahudi itu memerintahkan anaknya masuk Islam, tapi dia sendiri tidak mau masuk Islam. Dan produk ini juga banyak dikonsumsi umat Muslim di negeri ini. Berapa banyak orangtua yang memerintahkan anaknya untuk pergi ngaji, tapi orangtuanya sendiri tidak pernah mau ngaji. Banyak orangtua memerintahkan anaknya shalat, tapi orangtuanya sendiri masih asik di depan televisi dan tidak shalat.

Padahal di dalam Al-Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala sangat mencela salah satu produk Yahudi ini. Dia berfirman:

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44)

 

  1. Mengambil Sebagian Syari’at dan Menolak Sebagian yang Lain

Allah berfirman, “Apakah kalian beriman kepada sebahagian al-Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian diantara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah/2:85)

Dikisahkan dalam riwayat al-Bukhari kitab al-Jana’iz, bab ash-Shalatu ‘alal Jana’iz fil Mushalla wal Masjid no.1329 bahwa ketika Rasulullah shallahu ‘alayhi wa sallam berada di Madinah, ada dua orang Yahudi yang tertangkap berzina. Lalu mereka mendatangi Nabi dan meminta pemutusan perkara kepada beliau. Mereka mengira beliau akan meringankan sanksi tersebut. Akan tetapi Rasulullah memerintahkan perajaman keduanya. Mereka berkata: “Kami tidak mendapati hukum rajam dalam kitab kami.” Beliau lalu meminta Taurat. Kemudian orang yang membacanya meletakkan tangannya di atas ayat yang menyebutkan hukum rajam di dalam Taurat. Dahulu, ‘Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu termasuk ulama Yahudi. Dia pun berkata kepadanya (orang yang membaca tersebut): “Angkat tanganmu!” Dia pun mengangkat tangannya. Seketika itu tampaklah ayat yang tertulis bahwa kedua penzina dirajam apabila keduanya telah muhshon. Lalu Nabi memerintahkan untuk merajam keduanya. (Dinukil dari Kitab At-Ta’liq ‘ala as-Siyasah asy-Syar’iyah fi Ishlah ar-Ra’I war-Ra’iyah li Syaikhul Islam Ibni Taimiyah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

Salah satu produk Yahudi ini, yaitu mengamalkan sebagian isi Kitab, dan menolak sebagian yang lain sudah menjadi konsumsi keseharian masyarakat kita. Salah satu contoh kasusnya adalah dalam masalah aqidah. Ketika kita katakan bahwa Allah ada di atas langit, bersemayam di atas ‘Arsy sesuai dengan Sifat dan Keagungan-Nya dengan menyertakan dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan pendapat ulama, maka mereka menolak dengan akalnya dan tetap berpendirian bahwa Allah ada dimana-mana. Subhanallah. Tetapi ketika dikatakan bahwa di surga ada bidadari, sungai, pohon, lantas mereka menerimanya dan menetapkan hal tersebut.

Dalam masalah ibadah, ketika dikatakan bahwa setiap Bid’ah itu sesat, maka mereka pun menolaknya dengan akal mereka seraya mengatakan, “Tidak semua Bid’ah itu sesat! Ada yang Hasanah / baik!” Tetapi ketika mereka diperintahkan untuk mengumandangkan adzan sebelum shalat Tarawih, maka mereka pun menganggapnya sebagai keanehan dan menerima dalil bahwa setiap bid’ah itu sesat.

Demikianlah beberapa produk-produk Yahudi yang bisa kami kumpulkan agar para pembaca dapat menjauhinya dan mengajak kaum Muslimin yang lain untuk memboykot produk-produk di atas apabila menemukannya di Supermarket, pasar, masjid, sekolah, kantor, dan di manapun.

RENUNGAN UNTUK PARA AKTIVIS HARAKAH KHUSUSNYA DAN SEMUA DA’I UMUMNYA

 

Kita semua bersedih dengan adanya pembantaian terhadap kaum Muslimin dimana-mana: Palestina, Suriah, Rohingya, Iraq, Afrika, dan dimanapun. Kita semua menginginkan Allah memenangkan kaum ini di atas bangsa-bangsa yang kafir. Oleh karena kita ingin agar Allah membantu kita, maka kita pun membantu Allah. Membantu memenangkan agama-Nya di atas bumi ini. Kita menangkan agama ini dari semua bentuk Syirik, Bid’ah, Takhayul, dan Khurafat sehingga agama hanya milik Allah. Sebagaimana yang dilakukan oleh para pendahulu kita, yaitu para nabi, rasul, dan generasi salafush sholih.

Ketika umat Nabi Musa mendapatkan cobaan dari Allah dengan terjadinya pembantaian, penyiksaan, dan perbudakan dari pemerintah Mesir di zaman itu, yaitu Fir’aun. Adakah pemimpin negeri sekarang yang lebih kafir dan dzolim daripada Fir’aun? Membunuh dan mengaku tuhan yang mahatinggi? Tetapi Allah mengutus Musa ‘alayhis salam bukan untuk melakukan pemberontakan. Padahal beliau memiliki umat yang banyak. Beliau sendiri juga termasuk orang yang kuat. Sangking kuatnya beliau pernah secara tidak sengaja membunuh seorang Qibti dengan sekali pukulan. Beliau juga pernah menyisir pantai hingga jauh untuk mencari ilmu dari Nabi Khidir ‘alayhis salam. Tetapi kekuatan itu tidak beliau gunakan untuk melampiaskan emosi semata. Ketika di hadapan Fir’aun beliau berkata dengan lembut dan sopan, “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” (QS. An-Nazi’at 18-19)

Ketika umat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengalami penindasan di negeri Mekkah. Apa yang Rasulullah dan para shahabatnya bicarakan ketika sedang berkumpul-kumpul? Revolusi? Kudeta? Demonstrasi? Tidak. Yang mereka bicarakan adalah kalimat Tauhid yang agung, surga dan neraka, dan Dzat Allah Yang Mahaindah.

Ketika Shalahuddin al-Ayyubi rahimahullah hendak mengusir penjajah Salibis dari Palestina, apa yang dia persiapkan? Yang dia persiapkan adalah akidah para prajurit dan rakyatnya. Dia benar-benar membersihkan syirik dan bid’ah warisan Syi’ah Ubaidiyah yang ada di Mesir. Dia membangun madrasah-madrasah Ahlus Sunnah dan mengundang para ulama untuk tinggal di negerinya.

Jelas sudah metode generasi umat terdahulu ketika mereka ditimpa musibah apa yang mereka lakukan. Yang mereka lakukan adalah mendakwahkan tauhid kepada umat. Memperkuat akidah mereka. Menyebarkan ilmu yang bermanfaat kepada mereka. Membuat mereka cinta terhadap agama Islam dan pemeluknya.

Adapun kita sekarang, ketika terjadi musibah. Yang berbicara bukan ilmu sebagaimana generasi terdahulu yang Allah memenangkan mereka. Tapi yang berbicara adalah emosi dan hawa nafsu. Akhirnya apa yang dilakukan? Demonstrasi sana-sini, orasi sana-sini, laknat sana-sini, boykot ini itu. Hasilnya apa? Hasilnya adalah kebingungan dari umat Islam sendiri.

Oleh karenanya, renungan untuk saudara-saudaraku yang berada di harakah. Ajak umat ini kepada manhaj ilmu yang benar. Ajak mereka untuk mengenal Allah Yanghaq. Ajari mereka agama yang murni, yang tidak tercampur dengan syirik dan bid’ah. Bersabarlah terhadap musibah yang menimpa kaum Muslimin. Niscaya Allah akan memenangkan kita sebagaimana ia menolong hamba-hamba-Nya yang terdahulu.

 

Kepada Allah kita berlindung dan memohon keselamatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: