AHLUS SUNNAH TIDAK BERDEKATAN DENGAN AHLUL BID’AH (NASEHAT UNTUK AHLUS SUNNAH YANG MASIH BERGABUNG DALAM BARISAN HARAKAH: IKHWANUL MUSLIMIN, PKS, HTI, dll. ATAUPUN YANG MENJALANKAN STUDI BERSAMA MEREKA)

Salah satu ciri seorang Muslim yang memilki tekad untuk menjaga agama dan manhajnya untuk tetap berada di atas Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah dengan mencukupkan dirinya dengan menuntut ilmu dari para ahli ‘ilmu yang telah JELAS aqidahnya, manhajnya, serta kapasitas keilmuannya dalam bidang agama, tidak lagi mencari-cari majelis yang sudah jelas para ‘ulama memperingatkan umat dari kesesatan mereka.

Allah telah melarang kaum mukminin untuk menjauh dari Majelis yang disana ayat-ayat Allah beserta sunnah Rasul-Nya diingkari dan dijadikan olok-olok. Allah berfirman yang artinya:
“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam.” (QS. An-Nisaa : 140)

Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat di atas: “Masuk ke dalam ayat ini semua orang yang membuat perkara baru dalam agama dan semua mubtadi’ (pelaku bid’ah) sampai hari kiamat” (Dinukil dari beliau oleh Al-Baghawy dalam Tafsirnya).
Dan Ibnu Jarir Ath-Thobari berkata, “Dalam ayat ini ada penunjukkan yang sangat jelas akan terlarangnya bermajelis dengan pelaku kebatilan dengan semua bentuknya berupa bid’ah dan kefasikan ketika mereka larut dalam kebatilan mereka”.
Ibnu ‘Abbas berkata: “Jangan engkau bermajelis dengan pengikut hawa nafsu, karena bermajelis dengan mereka membuat hati menjadi sakit”. (Dinukil dari situs http://al-atsariyyah.com/larangan-bermajelis-dengan-ahlul-ahwa.html)

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Sholih bin Fauzan al-Fauzan hafidzohullah pernah ditanya tentang hukum bermajelis dengan Ahli Bid’ah. Beliau menjawab: “Jangan bermajelis dengan Ahli Bid’ah, baik di hadapan manusia maupun hanya engkau sendirian bersamanya. Jauhilah Ahli Bid’ah, jangan bergaul dengan mereka, jangan bermajelis dengan mereka, dan boikotlah mereka hingga mereka bertaubat dari bid’ah mereka” (http://forumsalafy.net/?p=2611).

SIAPAKAH AHLUL BID’AH?

Untuk mengetahuinya, kita harus mengetahui dulu apa itu bid’ah. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah: “Dan bid’ah yang dengannya seseorang dianggap termasuk pengikut hawa nafsu adalah bid’ah yang penyelisihannya terhadap Al-Kitab dan Sunnah masyhur di kalangan para ‘ulama, seperti bid’ah Khawarij, Rafidhah (Syi’ah), Qadariyah, dan Murji’ah” (http://al-atsariyyah.com/larangan-bermajelis-dengan-ahlul-ahwa.html).

Lalu kapan seseorang disebut sebagai Ahli Bid’ah?
Disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad Ali Firkus:
“Para ‘ulama salaf menyifati Ahli Bid’ah bagi seseorang yang melakukan perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah tanpa ilmu dan hujjah yang menjadi sandaran perbuatannya, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam: “Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami yang tidak berasal darinya maka ia tertolak”. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha).
Oleh karenanya, barangsiapa yang membuat perkara baru dalam agama yang tidak ada dalil syar’I padanya maka dia adalah pelaku bid’ah, dan yang wajib adalah menegakkan hujjah kepadanya dan menghilangkan syubhat yang menjadi sandarannya dan menasehatinya sampai dia meninggalkan kesalahannya. Jika dia enggan untuk kembali atau tidak mendengar nasehat sama sekali maka dia telah menjadi ahli bid’ah.” (http://www.darussalaf.or.id/fatwa-ulama-tanya-jawab/ciri-ciri-ahli-bidah/)

SIAPA SAJA CONTOH-CONTOH AHLI BID’AH?

Sekarang mari kita lihat di zaman sekarang. Setelah tadi disebutkan oleh para ‘ulama, bahwa Ahli Bid’ah adalah siapa saja yang melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dalam syari’at yang dengan amalan tersebut dia maksudkan untuk beribadah sementara ia tidak mengetahui dalil dari amalan tersebut, baik dia mengambil amalan tersebut dari orang-orang Khawarij, Syi’ah, atau yang lainnya. Siapa sajakah contoh-contohnya?

Lihatlah kelompok yang melakukan demonstrasi di jalan-jalan, seperti para simpatisan Ikhwanul Muslimin di Indonesia yang mana pemahaman ini bercokol di masjid-masjid kampus yang diisi oleh anak-anak muda. Ketika mereka melakukan hal tersebut tidak ada di antara mereka yang berpikir bahwa demonstrasi adalah suatu kemungkaran, melainkan jihad fi sabilillah walaupun membuat macet jalan raya, walaupun harus saling melirik ikhwan dan akhwat, walaupun para ‘ulama telah berfatwa haramnya demonstrasi, dan bahkan walaupun Al-Qur’an dan Sunnah menunjukkan terlarangnya demonstrasi. Tentang ini Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:
“Barangsiapa yang hendak menasehati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa dengan empat mata.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya)

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Dianjurkan bagi siapa saja yang mengetahui kekeliruan pemerintah dalam sebagian persoalan untuk menasehatinya. Tidak boleh menampakkan kebencian kepadanya di depan khalayak umum, tetapi seperti yang dijelaskan di dalam hadits, yaitu mengajaknya dan menyendiri dengannya kemudia bersungguh-sungguh menasehatinya dan tidak merendahkannya.” (as-Sail al-Jarrar, dinukil dari http://asysyariah.com/cara-menasehati-pemerintah/)

Kemudian setelah mengetahui argumen seperti ini, apa tanggapan dari para pemuda simpatisan Ikhwanul Muslimin ini? Mereka malah melecehkan ‘ulama yang mengikuti hadits tersebut seperti yang bisa pembaca budiman saksikan di situs rujukan mereka http://www.islamedia.co/2014/08/fatwa-aneh-mufti-saudi-haram-hukumnya.html?m=1

Mereka menghina Asy-Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Abdullah Alusy Syaikh yang berfatwa haramnya demonstrasi karena tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka –wal’iyyadzubillah-. Sementara beliau –hafidzohullah- adalah salah satu ulama besar yang menjadi rujukan umat abad ini, serta diakui kredibilitasnya oleh para ‘ulama yang lain. Dan yang menghina beliau adalah anak-anak muda berpakaian jeans yang baru belajar Al-Qur’an kemarin sore dan menyibukkan diri mereka dengan mikrofon serta menghabiskan uang untuk menyewa mobil pick up serta membeli ban-ban bekas untuk dibakar!???

Contoh di atas sudah cukup membuktikan penyimpangan kelompok ini dan yang sejenisnya dari kalangan Harakiyyun. Maka berhati-hatilah kita dari menghadiri majelis mereka serta menjauhlah darinya.

Wahai Ikhwanifiddin ‘azzakumullah, pembaca yang mulia. Perselisihan yang terjadi antara kita (Ahlus Sunnah) dengan mereka (Ahlul Bathil) bukanlah sebagaimana perselisihan yang terjadi antara Imam Ahmad dengan Imam Syafi’I dalam masalah qunut Subuh, atau perselisihan antara Asy-Syaikh Al-Albani dengan Asy-Syaikh Bin Baz dalam masalah bersedekap setelah rukuk, akan tetapi sudah masuk ke dalam jantung aqidah yang merupakan inti dari agama ini, yang mana orang-orang yang mereka anggap sebagai ‘ulama telah mendapatkan tahdzir dan peringatan dari para ‘ulama Ahlus Sunnah akan bahaya penyimpangan mereka.

Tata cara sholat mereka boleh saja meniru apa yang ada dalam Kitab Sifat Sholat Nabi karya Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, pemahaman mereka tentang fikih boleh saja merujuk kepada Kitab Qowa’idul Fiqhiyah karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Tetapi pegangan mereka dalam urusan Aqidah dan Manhaj, siapa yang mereka jadikan rujukan? Mengapa mereka tidak mau merujuk kepada Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam masalah aqidah? Mengapa mereka tidak mau merujuk kepada Kitab Asy-Syari’ah karya Imam Al-Ajury dalam urusan manhaj? Sekali lagi, karena mereka hanya mengikuti apa yang sesuai dengan rancangan ADRT organisasi mereka. Sebab kelompok yang dinyatakan sesat oleh MUI seperti LDII pun tata cara sholatnya juga merujuk kepada Syaikh Al-Albani. Oleh karenanya, ayyuhal ikhwah! Jangan tertipu dengan penampilan luar.

HIKMAH DIBALIK LARANGAN BERMAJELIS DENGAN AHLI BID’AH

Setiap apa yang diperintahkan ataupun yang dilarang dalam syari’at, pastilah memiliki hikmah atau kebaikan bagi yang mematuhinya, baik hikmah tersebut diketahui makhluq, ataupun hanya Allah yang mengetahuinya. Begitu juga dengan larangan ini, sebagaimana telah disebutkan oleh para ‘ulama kita semenjak dahulu hingga sekarang mereka selalu satu suara: “Menjauhlah dari majelis Ahli Bid’ah!”

Asy-Syaikh Ahmad bin ‘Umar bin Salim Bazmul di dalam Kitabnya yang berjudul “Qowa’id Salafiyyah wa Nasha’ih Taujihiyyah Li al-Khuruj min Fitan Al-Hizbiyyah” (Kaedah-Kaedah Salafiyyah dan Nasehat-Nasehat yang Mengarahkan Sebagai Jalan Keluar dari Fitnah-Fitnah Hizbiyyah) menyebutkan kaedah yang ketujuh dimana disana terdapat hikmah yang penting mengapa kita harus menjauhi majelis Ahli Bid’ah. Beliau menuliskan judul babnya yang berarti:

“HENDAKNYA SELALU BERGABUNG DALAM BARISAN ULAMA SALAFIYYIN, DAN MENJAUHKAN DIRI DARI AHLUL BID’AH DAN AHLUL AHWA’. HENDAKNYA MENJAUH DARI ORANG YANG TIDAK JELAS BESERTA ORANG-ORANG YANG TELAH MENDAPATKAN TAHDZIR. ATAUPUN ORANG-ORANG YANG TAMPAK DARINYA PERMUSUHAN TERHADAP ULAMA SALAFIYYIN DAN ORANG-ORANG YANG TAMPAK DARI SELA-SELA UCAPANNYA SESUATU YANG MENUNJUKKAN TIDAK ADA KECENDERUNGAN KEPADA SALAFIYYIN.”

Itu merupakan kaedah ketujuh dari sebelas kaedah yang beliau sebutkan di dalam kitab tersebut. Yang beliau maksudkan adalah hendaknya seseorang selalu komitmen dengan bimbingan para ‘ulama salaf, mencukupkan diri dengan mereka dan tidak berpaling kepada orang-orang yang memiliki masalah dalam beragama. Hendaknya seseorang hanya mengambil ilmu dari mereka para ‘ulama Ahlus Sunnah dan tidak mengambil ilmu dari selain mereka.

Dalam penjelasan bab tersebut, beliau mengibaratkan ilmu seperti air. Sebagaimana seseorang pastilah ingin minum dari air yang bersih, tertutup rapat di wadahnya serta disegel, daripada harus meminum air dari wadah yang telah terbuka sementara ia tidak tahu kondisi air tersebut apakah telah tercampur sesuatu walaupun kelihatannya jernih.
Muhammad bin Sirrin rahimahullah pernah berkata: “Ilmu adalah agama, maka hendaknya seseorang melihat kepada siapa ia mengambil ilmu.”
Di kalangan para ‘ulama juga dikenal kaedah: “Hati ini lemah sementara syubhat dengan cepat menyambar.”

Makna dari kaedah ini bahwasanya hendaknya seseorang itu tawadhu’ (rendah hati) jangan terlalu percaya diri dengan berasumsi, “Jika saya ikut pengajian kelompok ini, saya ingin berdakwah di dalamnya agar para anggotanya dapat mengenal sunnah, saya akan ikut kelompok itu supaya bisa mengenalkan sunnah juga…”. Hendaknya seseorang menyadari bahwa hati ini lemah, bisa jadi sewaktu-waktu lalai dan ketika menemukan syubhat (kerancuan), dia tidak bisa lagi membedakan apakah benar atau salah kemudian menyebabkan hati berubah 180 derajat.

Berapa banyak orang yang memiliki niat untuk berdakwah terhadap suatu komunitas kemudian dia bergabung ke dalam komunitas tersebut. Akan tetapi, setelah dia bergabung di kelompok tersebut, dia menemukan ternyata orang-orang di dalamnya menyambutnya dengan baik, senyum kepadanya, menyapanya dengan ramah, dan memberinya salam, yang akhirnya membuatnya segan untuk menerangkan kepada kelompok tersebut tentang kemungkaran mereka berupa bid’ah dan kefasikan. Lama-kelamaan, dia diundang makan, diberi hadiah, diamanahi berupa jabatan penting, yang dengan sebab itu dia lupa akan tujuan untuk mengenalkan sunnah terhadap komunitas tersebut. Dia pun lalai dan akhirnya ikut menyetujui amalan-amalan yang ada dalam organisasi tersebut walaupun itu mengandung syirik, bid’ah, atau kemaksiatan yang lainnya.

Demikian saya menuliskan nasihat ini sebagai bentuk taubat atas perbuatan terdahulu berupa mengajak orang-orang kepada harakah dan hizbiyyah, bukan kepada Al-Qur’an dan Sunnah, mengajak orang-orang untuk menuntut ilmu kepada para da’I yang ditunjuk organisasi, bukan kepada para ‘ulama yang jujur dalam berdakwah. Dan nasehat ini juga dibuat sebagai bahan renungan bagi mereka yang telah mengenal sunnah akan tetapi masih tetap bersikukuh untuk duduk dalam majelis organisasi mereka yang telah jelas penyimpangannya, ataupun orang-orang yang belum duduk dalam majelis Ahli Bid’ah akan tetapi memiliki niat untuk duduk bersama mereka baik di organisasi mereka ataupun universitas-universitas mereka seperti STAIN, IAIN, dan sebagainya.

Semoga Allah selalu memberikan hidayah kepada kita dan mengokohkan kita di atas Minhajus Salaf ini.

2 responses to this post.

  1. Dalam suatu buku terjemah diuraikan bahwa Demonstrasi dan debat merupakan salah satu sarana bagi bangsa Yahudi untuk menguasai dunia. Kekacauan akan dibangun, dan Yahudi akan datang untuk memadamkannya, sehingga semua orang akan tergantung dan menerima keberadaannya. Jadi wajarlah kalau demonstrasi diharamkan. Dalam Al Qur’an juga jelas tuntunannya, “Dan urusan mereka diselesaikan dengan musyawarah antar mereka”
    Akan tetapi bukanlah berarti bahwa kita harus menjauhi Harakah, karena itu merupakan sarana untuk menuntut ilmu. Tahapan kedewasaan berfikir seseorang perlu proses dan harakah nampak cocok untuk jiwa muda. Pada saatnya nanti, jika ilmunya sudah lengkap tentu setiap individu akan mengetahui memilah dan memilih mana yang paling sesuai.

    Balas

    • Ana fikir komentar antum ini akan terbantahkan kalau artikel ana dari awal sampai akhir dibaca tuntas. Disana ada dalil, ada fatwa, ada hikmahnya, ada solusinya. Untuk apa lagi membutuhkan Harakah yang memiliki manhaj yang tidak dibangun di atas ilmu sementara kita ingin mengambil imu darinya?

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: