Ketika Ikhwanul Muslimin Berbicara tentang “Salafy”

Da’i-da’i Ikhwanul Muslimin yang ada di Indonesia (yakni PKS) seringkali berbicara tentang Manhaj Salaf ataupun Salafiyyun berbeda dengan kenyataan yang ada di lapangan. Seringkali dibumbui dengan rempah-rempah negatif. Tujuannya tidak lain, supaya para pemuda mereka tidak beralih kepada Manhaj Salaf. Yang dahulu saya pernah dengar langsung ketika sempat bergabung dalam halaqah mereka di antaranya:

1. Salafy hanya menerima hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
2. Salafy sering bertengkar dengan sesamanya karena masalah menggerak-gerakkan jari saat tasyahud.
3. Salafy tidak memiliki akhlaq, contohnya mereka tidak mau memberi tumpangan kepada jama’ah yang jalan kaki ke masjid ketika Salafy naik motor. (Saya rasa ini tuduhan yang konyol).
4. Fatwa-fatwa ulama Salafy (terutama masalah politik) hanya cocok untuk diterapkan di Arab Saudi saja.
5. Salafy tidak mau bergabung dengan kita (yakni majelis Ikhwanul Muslimin) dan menganggap kita (Ikhwanul Muslimin) sebagai Ahli Bid’ah.
6. Salafy saling membid’ahkan sesamanya hanya karena masalah raka’at Tarawih (11 dan 23 raka’at).

Ketika di awal-awal saya mendengar pernyataan mereka di atas ini, yakni ketika saya masih berkumpul dalam majelis mereka, saya sudah merasa bahwa pernyataan seperti ini adalah suatu kelalaian (maaf jika tidak mau dikatakan ‘kedustaan’). Karena ternyata tidak seusai dengan fakta di lapangan, dan akan saya bantah pernyataan mereka ini:

Bantahan 1: Tidak benar jika dikatakan Salafy hanya menerima hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim saja. Seandainya mereka mau sedikit meluangkan waktu membaca buku-buku karya asatidzah Salafy, atau artikel mereka yang telah tersebar di internet-internet, akan banyak ditemukan pembahasan-pembahasan yang menukil hadits-hadits selain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Jika yang dimaksud adalah bahwa Salafy menganggap hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim semuanya shahih, bukankah semua kaum Muslimin juga sepakat seperti itu? Mengapa harus memilih redaksi kata-kata yang sangat ceroboh (maaf kalau tidak mau dikatakan ‘dusta’) yang akhirnya mengandung fitnah?

Bantahan 2: Tidak benar jika Salafiyyun bertengkar dengan sesamanya hanya karena masalah menggerak-gerakkan jari saat tasyahud. Ada yang pernah lihat? Saya tidak pernah melihatnya. Di ma’had tempat saya biasa pengajian, sebagian ikhwah ada yang menggerak-gerakkan jarinya, sebagian besar yang lain tidak menggerakkan. Tetapi saya tidak pernah lihat yang tidak menggerakkan jarinya menjotos atau mencaci yang menggerakkan jarinya. Seandainya para da’i-da’i penuduh itu mau meluangkan sedikit waktunya untuk berkumpul bersama kami di pengajian, bukan hanya sekali, dua kali, atau seminggu, niscaya mereka tidak akan membuat kecerobohan (maaf kalau tidak mau dikatakan kedustaan) seperti ini.

Bantahan 3: Tidak benar jika Salafi tidak memiliki akhlaq hanya karena ketika mereka naik motor ke masjid bertemu sesama Muslim yang jalan kaki kemudian tidak diberi tumpangan. Saya tidak mau membantah ini karena tuduhannya sangat konyol sekali, saya tidak mau menjerumuskan diri dalam jurang kenistaan. Lagipula darimana mereka tahu kalau yang naik motor itu adalah Salafy? Berapa banyak jama’ah mereka Ikhwanul Muslimin, bahkan NAIK MOBIL tidak pernah menawarkan tumpangan kepada saya sendiri ketika saya jalan kaki pulang dari masjid????!!!!

Bantahan 4: Tidak benar bahwa fatwa-fatwa ulama Salafy hanya berlaku di Arab Saudi saja, padahal mereka sendiri sering memakai fatwa-fatwa ulama Saudi untuk kepentingan Harakah mereka. Jika kita perhatikan fatwa-fatwa ‘ulama Saudi, biasanya diawali dengan adanya pertanyaan. Dan pertanyaan itu, tidak hanya datang dari warga Saudi saja, terkadang dari luar negeri yang menerapkan sistem demokrasi. Apakah para ulama kita sebodoh itu tidak paham keadaan negeri di luar Saudi? Sementara yang paham adalah kamu yang bahasa Arab saja tidak paham untuk menafsirkan Al-Qur’an dan Sunnah?

Bantahan 5: Jika dikatakan Salafy tidak mau bergabung dengan majelis Ikhwanul Muslimin, itu disebabkan mereka terlebih dahulu yang mengucilkan Salafy, melecehkan para ulama Salaf, tidak mau menerima nasehat dari Salafiyyin ketika dinasehati. Menganggap nahi mungkar yang dilakukan Salafy adalah bathil. Ketika dikatakan, “Jangan demonstrasi karena tidak ada tuntunannya dalam syari’at dan mudhorotnya besar” dan kita telah menasehati hal tersebut, maka mereka pun membalasnya, “Memang antum sudah berkontribusi apa dalam dakwah?” Akhirnya kami pun dikucilkan. Oleh karenanya tidak benar jika Salafy tidak mau bergabung dengan mereka. Akan tetapi merekalah yang tidak mau bergabung di atas As-Sunnah dan Al-Haq.

Bantahan 6: Tidak benar jika Salafy saling membid’ahkan sesamanya hanya karena masalah jumlah raka’at tarawih. Seandainya mereka mau sedikit saja mengurangi membaca koran dan menonton TV, kemudian pergi ke pengajian bersama kami, mereka akan menemukan kelapangan dalam masalah ini dan penjelasan yang ilmiyah seputar khilafiyyah jumlah raka’at tarawih.

Saya sengaja mengangkat topik ini disebabkan ada sebagian sahabat-sahabat yang masih menghadiri halaqah bersama mereka. Saya khawatir syubhat-syubhat semacam ini akan disampaikan lagi oleh mereka kepada antum-antum -hadaniyallah wa iyyakum-, apabila antum tidak memiliki bekal ilmu untuk menghadapi mereka maka akan menyebabkan kebinasaan.

Apabila menyampaikan tentang manhaj Salaf dan pengikutnya saja mereka ceroboh (maaf kalau tidak mau dikatakan berdusta), maka tidak menutup kemungkinan mereka akan menyampaikan ilmu agama kepada antum juga dengan kecerobohan (maaf jika tidak mau dikatakan kedustaan).

Apabila antum bertanya, “Kak, bukankah lebih baik saya belajar agama bersama mereka daripada tidak belajar agama sama sekali?”

Maka saya nukilkan nasehat Syaikh Hani bin Braik hafidzohullah, “Lebih baik engkau bodoh tetapi di atas As-Sunnah, daripada penuntut ilmu tetapi mubtadi’ (Sesat)”.

Dan juga saya nukilkan nasehat Al-Imam Yunus bin Ubaid Al-Bashri rahimahullah ketika beliau memberikan nasehat kepada anaknya:
“Aku melarangmu dari perbuatan zina, pencurian, dan minum khamr. Engkau bertemu Allah dengan membawa ketiga jenis dosa ini lebih aku sukai dibandingkan engkau bertemu Allah dengan membawa paham ‘Amr bin ‘Ubaid dan pengikutnya (yakni Mu’tazilah).” (Tahdzibut Tahdzib)

Jika antum bertanya lagi, “Tapi, Kak. Bukankah malaikat mendatangi majelis-majelis ilmu, dan MC-MC mereka sering memotivasi kami untuk tetap datang ke halaqoh karena dalam halaqah mereka dinaungi oleh Rahmat dan Sakinah dari Allah.”

Yak akhi, malaikat rahmat hanya mendatangi majelis yang diridhoi oleh Allah. Dan Allah meridhoi suatu majelis apabila manhaj dari majelis tersebut benar, sesuai Al-Qur’an, Sunnah, pemahaman para Shahabat, mengikuti petunjuk ulama. Kalau yang mengisi materi halaqah-nya saja sering ceroboh (maaf kalau tidak mau dibilang berdusta), bagaimana Allah mau meridhoi majelis itu? Yang ada justru laknat. Bagaimana mungkin malaikat rahmat turun ke majelis yang dilaknat Allah? Tidak akan bertemu.

“Jadi bagaimana, Kak? Kalau saya tidak ikut halaqahnya, nanti saya ditelpon sama ustadznya?”

Gak usah diangkat.

“Nanti kamar kos saya didatangi?”

Gak usah dibuka pintunya.

Ingatlah nasehat Imam Ahmad bin Hanbal ketika memperingatkan umat dari bahaya Ahlul Bid’ah bernama Husain Al-Karabisi, “Waspadalah kamu dari Al-Karabisi, jangan kau ajak bicara dia dan jangan pula kau ajak bicara siapapun ynag berbicara dengannya.” (Tarikh Baghdad VIII/65-66)

Ingat pula tindakan keras dari Ibrahim An-Nakha’I rahimahullah ketika datang kepadanya seorang Ahlul Bid’ah dari kalangan Murji’ah, “Jangan engkau mendekati kami selama engkau masih di atas paham ini.” (Lammud Durril Mantsur)

Semoga bisa dijadikan bahan perenungan bagi kawan-kawan yang masih berkutat dalam majelis Ikhwanul Muslimin, atau yang dikenal di Indonesia sebagai halaqah PKS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: