Nasehat Untuk Kondisi Ikhwah yang Berpenghasilan Tak Tentu sehingga Sering Menunggak Pembayaran SPP Anaknya

Al-Ustadz Muhammad Afifuddin As-Sidawy

Tanya Jawab Muhadharah Ilmiyah “Menggali Ilmu tentang Taqdir”

Masjid Agung Nur Sulaiman, Banyumas, Jawa Tengah

Ahad, 15 Jumadits Tsaniyyah 1436 H / 5 April 2015 M

Pertanyaan: Saya seseorang yang berpenghasilan tidak tentu. Karena keinginan yang besar saya memasukkan anak-anak di ma’had Salafy. Namun akhir-akhir ini saya mempunyai tanggungan yang banyak pada ma’had karena SPP yang nunggak. Apakah saya harus menghentikan anak-anak saya untuk sekolah di pondok? Apakah saya dikatakan sebagai orangtua yang dzolim pada anak-anaknya?

Jawaban: Iya. Kalo antum korbankan anak-anak antum yang sudah ta’lim di pondok-pondok pesantren, dzolim itu. Nah terus, dosa apa anaknya antum ini? Antum sebagai orangtua yang bertanggungjawab mencari ma’isyah, kerjakan semampunya. Tindakan antum yang memasukkan anak-anak ke pondok pesantren-pesantren yang bagus itu kewajibannya antum –baarakallahu fikum. Jangan mengorbankan anaknya antum hanya untuk semata-mata supaya ada penghasilan lebih. Sebagian mereka menggantinya disekolahkan di sekolah-sekolah ikhtilath. Apa juga gak bayar? Bayar! Bahkan lebih besar –baarakallahu fiikum. Na’am, sehingga dorong anak-anak antum –baarakallahu fiikum, untuk semakin semangat belajar, semakin semangat untuk tholabul ‘ilmi. Yakini, in syaa Allah Anda dikasih rizki oleh oleh dengan sebab ini –baarakallahu fiikum. Disebutkan dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, disebutkan dulu di zaman Rasulullah ada dua orang bersaudara. Yang satu sibuk ta’lim dengan Rasul, yang lainnya, yang lainnya cari ma’isyah, kerja untuk membiayai adiknya atau saudaranya itu. Akhirnya dia mengeluh kepada Rasulullah, maka Rasul mengatakan (yang artinya –pent.): “Bisa jadi, pasti engkau akan dikasih rizki dengan sebab adikmu tadi, yang belajar tadi.” Sehingga orangtua terus bertanggungjawab sekuat tenaga, anak-anak dibiarkan terus tholabul ‘ilmi, disemangati. In syaa Allah dikasih tambahan rizki oleh Allah ‘Azza wa Jalla dengan itu semuanya. Dan diharapkan kepada pihak pesantren-pesantren Ahlus Sunnah wal Jama’ah Salafiyyin untuk tidak ragu dan saklek terkait dengan SPPnya, untuk orang-orang tua yang tidak punya kemampuan dan anak-anaknya tergolong anak-anak yang baik, semangat belajarnya, tolong dikasih kemudahan. Tolong dikasih kemudahan! Di tempat-tempat kita, pesantren cukup besar –baarakallahu fiikum, itu tidak ada yang 100% bayar semua. Bisa dikatakan paling yang membayar itu cuma 40% dari santri-santri yang ada. Selebihnya ada yang bayar separo, ada yang bayar seperempat, ada yang bayar sekian. Sekian puluh persen tanggungan pondok –baarakallahu fiikum. Dikatakan memang pesantren kita itu bukan pesantren komersil. Pesantren sosial dan dakwah –baarakallahu fiikum. Na’am ya ikhwan. Di tempat saya, secara pribadi itu cukup banyak anak-anak yang menjadi tanggungan pondok –baarakallahu fiikum. Itu kita klasifikasi, gak asal masuk gitu aja. Dilihat, orangtuanya kayak apa? Orangtuanya masyaa Allah, bagus. Ikhwan kita semangat ta’limnya, semangat ibadahnya, tapi kurang mampu. Anaknya? Masyaa Allah, anaknya semangat. Sini! Masuk! Gampang urusannya, masuk! Sehingga memudahkan para ikhwan-ikhwan dan membahagiakan para ikhwan-ikhwan tadi. Dan yang berikutnya, orang-orang yang kantong tebal ini lho! Jangan pasif! Jangan pasif! Mestinya antum itu aktif menggunakan harta antum untuk fii sabilillah. Antum cari orang-orang semacam ini. Ikhwan-ikhwan kita yang gak mampu, yang miskin, yang fuqoro –baarakallahu fiikum, yang punya semangat tinggi untuk mengamalkan sunnah, dan mendidik anak-anaknya juga di atas sunnah, cari! Jangan pasif, cari! Ketemu, jadilah antum orangtua asuhnya, bantu! Ada empat pondok, lihat sebulan berapa? Ya empat orang ya sekitar 1,2 juta tiap bulan. Beres sudah, masukkan pondok! Bayar tiap bulan! Itu fii sabilillah, ya ikhwan! Besar pahalanya –baarakallahu fiikum. Ini yang belum terbayangkan oleh kebanyakan Salafiyyin berkantong tebal. Iya apa iya? Iya gak semuanya sih. Kebanyakannya bahkan. Sebagian mereka, masyaa Allah luar biasa. Berangkat ke Yaman, iya? Tapi yang seperti ini ya ikhwan yang sifatnya anak-anak ikhwan yang masih belum bisa ke Yaman, masih setingkat tahfidz, setingkat mutawasithoh. Banyak teman-teman kita Salafiyyin yang gak mampu, dibantu mereka! Supaya mereka terjawab solusinya in syaa Allah. Berta’awun! Dari pihak pondoknya ada ta’awunnya, yang berkantong tebal juga ada ta’awunnya, orangtua bertanggungjawab penuh untuk ma’isyahnya dengan cara yang halal, anaknya terus didorong untuk tholabul ‘ilmi. Tidak ada yang bisa memuliakan mereka melainkan dengan ilmu –baarakallahu fiikum. Wallahu ta’ala a’lam bish showaab.

Ditranskrip secara bebas oleh Admin.

Mohon maaf tidak dapat menampilkan audio karena keterbatasan media blog.

One response to this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: